Terlalu Waras untuk Berkreasi

TERLALU WARAS UNTUK BERKREASI

Kata “waras” di dalam kosa bahasa jawa biasa diartikan “tidak gila”, belum menjadi gila atau sembuh dari gila, jadi judul di atas bisa berarti, “KITA BELUM CUKUP GILA UNTUK MENJADI SANG KREATOR”, kita masih menjadi pada umumnya “akeh tunggale”, normal-normal saja, kewarasan umum atau mayoritas. Bagaimanapun mayoritas akan tetap mengedepankan yang secara umum diterima semua pihak, karena akan menyangkut banyak pihak yang berarti secara pemikiran dari apa yang dimiliki secara minimal yang seluruh orang memilikinya, seluruh orang akan setuju, dan seluruh orang memahaminya tanpa konflik.

Memang bila dipahami sebagai perlakuan kehidupan sehari-hari adalah normal-normal saja, seperti pada umumnya, tetapi sikap pada umumnya bila dilibatkan dalam proses pencarian seni tentu akan menjadi membosankan dan mandeg. Kita lupa bahwa apapun yang kini menjadi aturan umum entah budaya apapun adalah produk dari pemikiran seseorang, dari analisa seorang individu atas lingkungannya yang kemudian disetujui bersama karena memang secara nalar memungkinkan diterapkan untuk kebersamaan yang lambat laun menjadi normal, norma, dan normatif.

Alam menghendaki lain, bahwa alam akan terus berubah walau hukum alam tidak berubah tetapi bagaimana menafsirkan akan tergantung bagaimana pemahaman baru menilai dan memaknainya yang dikatakan sebagai perspektif (teori) ataupun lebih jauh akan menuju suatu ideologi sebagai gagasan dan sekaligus perlakuan di dalam berkehidupan, walau banyak teori belum/ tidak juga diterapkan oleh penggunanya (yang tahu teori itu). Memang antara tahu dan berkesadaran masih memiliki jarak.

A. Latar Belakang

Akankah tetap benar dari apa-apa yang di hari ini akan kelak selalu benar? Kita hidup di dunia yang mana pertanyaan yang mungkin sama, tetapi jawabannya ternyata telah berubah. Dengan begitu apa yang membuat kita di sini sekarang tidak akan mundur ke masa lalu, kecuali sebagai pembelajaran, dan bila anda ingin mendapatkan hasil penciptaan seni yang baru yaitu seni yang belum pernah anda ciptakan sebelumnya. Begitulah cara kita masing-masing dapat melakukan hal-hal yang mustahil/ belum pernah dilakukan sebelumnya untuk menciptakan hal-hal yang bersifat sublim/ dramatis.

Mengapa yang bersifat mayoritas, umum, dan normatif akan selalu salah atau bahkan buruk bila di dunia kreativitas seni? untuk mendapatkan hasil yang anda bisa/ mudah dari semua yang anda punyai sendiri (faktisitas). Mayoritas akan cenderung menggunakan pilot otomatis yang sama sekali enggan atau malas untuk menganalisa, mempertimbangkan kembali sebagai observasi mendasar (fenomenologi) sebagai langkah menuju pemahaman. Itulah secara umum 97% adalah kita yang mayoritas, umumnya, normatif, dan normal-normal saja.

Kata lain kita hanya cenderung berpikir di dalam kotak yang batas-batasnya sangat jelas atau batas kewarasan; batas norma, batas agama, batas ekonomi, batas politik, batas hukum-hukum dengan begitu maka akan berpikir secara agamis, normatif, ekonomis, atau terbatas politis sebuah partai. Padahal kita tahu bahwa realitas begitu bertingkat dan kompleks.

Begitulah batas kotak kita yang sebenarnya sangat kecil, kita tidak sadar condong mengarah pada pilot otomatis yang berarti itu adalah standart industri atau norma industri dan pasar. Kata norma adalah singkatan dari “normal”, menghindar dari eksperimentasi, biasa-biasa saja yang pada ummnya orang lain juga melakukan itu yang berarti bahwa apa yang akan didapatkan juga persis apa yang akan didapatkan oleh orang lain, juga yang akan menghasilkan hal-hal yang normal-normal saja, hal biasa. Masalahnya di dalam seni yang kita pikir mustinya adalah selisih perbedaan walau itu kecil adalah hal yang lain dari orang lain, yang tidak dipunyai orang lain sebagai hal yang luar biasa.

Tidak bisa disangkal bahwa otomatisasi pikiran amat banyak dipengaruhi oleh pengetahuan, pendidikan dan iklan. Maka tidak heran bila kita terlalu waras untuk mengelak dari ketiga hal di atas karena bagaimanapun hal itu sudah sebagai makanan sehari-hari otak kita yang tidak lagi mau mempertanyakan, mendekonstruksi ego, atau keluar dari status quo yang pada umumnya kita akan dianggap gila.

B. Dogma dari Ilmu Pengetahuan Modern

Di bab ini saya mengambil review dari Dr. Rupert Sheldrake (1942-), “The Science Delusion” tentang 10 dogma Ilmu Pengetahuan Modern. “Pandangan dunia ilmiah” sangat berpengaruh karena sains telah begitu berhasil telah menyentuh seluruh hidup manusia melalui teknologi dan pengobatan modern. Bagi Sheldrake sepertinya ilmu pengetahuan yang tidak terbantahkan walau begitu dia nyatakan bahwa asumsi-asumsi yang ada adalah kesepakatan para ilmuwan. Sebagai contoh bagaimana ilmuwan fisika akan melegitimate hasil dari penemuan ilmu kedokteran dsbnya, dari sisi inilah dia berpendapat bahwa sains dihantui oleh asumsi berabad-abad yang telah mengeras menjadi dogma.

Khayalan ilmiah terbesar telah mengklaim seakan-akan bahwa sains sudah mengetahui semua jawabannya. Ilmu pengetahuan kontemporer didasarkan pada klaim bahwa semua realitas adalah material atau fisik. Tidak ada realitas selain realitas material. Kesadaran adalah produk sampingan dari aktivitas fisik otak. Evolusi tanpa tujuan. Tuhan ada hanya sebagai ide dalam pikiran manusia. Padahal kita punya kesadaran, artinya materi tidak akan mampu menjelaskan kompleksitas manusia yang berkesadaran.

Semuanya pada dasarnya mekanis. Anjing, misalnya, adalah mekanisme yang kompleks, daripada organisme hidup dengan tujuan mereka sendiri. Bahkan manusia adalah mesin, ‘robot’. Seperti yang diungkapkan Richard Dawkins (1941-) (atheis terkemuka) bahwa kehidupan adalah bagai otak, sebentuk komputer yang diprogram secara genetis. Banyak hal yang belum diketahui, sehingga sains menyatakan bahwa kehidupan batiniah, sudut subjektif atau sudut pandang tidaklah ada. Bahkan kesadaran manusia adalah ilusi yang dihasilkan oleh aktivitas material otak.

Pada tahun 1963, ketika Sheldrake belajar biokimia di Universitas Cambridge, dia diundang ke serangkaian pertemuan pribadi dengan Francis Crick (1916-2004) dan Sydney Brenner (1927-) di ruangan Brenner di King’s College dan beberapa kolega lainnya. Crick dan Brenner baru-baru ini membantu ‘memecahkan’ kode genetik. Keduanya sangat materialis dan Crick juga seorang atheis militan. Mereka menjelaskan ada dua masalah utama yang tidak terpecahkan dalam biologi, yaitu: pengembangan dan kesadaran.

Brenner meneliti biologi perkembangan sementara Crick meneliti tentang biologi kesadaran. Keduanya memang orang-orang terbaik di bidangnya. Brenner dianugerahi Hadiah Nobel pada tahun 2002 untuk karya ilmiahnya “Elegan Caenorhabdytis”. Crick mengoreksi naskah ilmiahnya Brenner terakhir kalinya sehari sebelum Crick meninggal pada tahun 2004. Pada saat pemakamannya, Michael putra Crick mengatakan bahwa yang membuat ayahnya tergerak untuk menganalisa kembali bukanlah keinginan untuk menjadi terkenal, kaya atau populer, tetapi “untuk menandaskan bahwa di dalam kehidupan terdapat vitalisme”. Vitalisme adalah teori bahwa organisme hidup benar-benar hidup, dan tidak dapat dijelaskan dalam hal fisika dan kimia begitu saja.

Begitulah Sheldrake membangun kecurigaannya, dia yakin bahwa ilmu pengetahuan terhambat oleh asumsi para ilmuwan yang telah mengeras menjadi dogma. Keyakinan asumsi itu melindungi sains hingga menjadi mapan, tetapi sebenarnya justru asumsi akan bertindak sebagai penghalang bagi keterbukaan pikiran.

C. Sistem Pendidikan

Kenneth Robinson (1950-), sistem pendidikan kita dilandasi oleh ide kemampuan akademisi karena beberapa alasan yaitu keseluruhan sistem yang diciptakan untuk memenuhi bidang industrialisasi. Coba pikirkan bahwa, pertama: pengertian kebergunaan adalah kerja/ mendapatkan pekerjaan yang sangat lain dengan konsep semasa kecil yang mana kita diajarkan untuk mewujudkan dari apa-apa yang kita sukai. Sifat kebergunaan itu hingga mengarahkan pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan, bukan hal-hal yang kita sukai, artinya kebergunaan yang sehubungan dengan industrialisasi dan kapitalisasi.

Tatanan kapitalisme yang digerakkan oleh sektor industri makro harus dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana mengganti sumber daya yang sudah aus dalam masa pemakaian. Bahan baku, bangunan, piranti produksi (mesin) sebagai sumber daya material yang menggerakkan sektor industri haruslah tersedia ketika yang sedang dipakai telah aus. Selain faktor produksi material, reproduksi harus juga menyediakan tenaga jasa sumber daya manusia (buruh) yang tidak kalah penting dengan sumber daya material. Singkatnya, logika reproduksi adalah logika keterjaminan persediaan faktor produksi awal (Danang TP, “Awas Bahaya Pendidikan!”, LSFCogito).

Begitu pula praktisi pendidikan kita meragukan ketidak jelasan konsep dan strategi Link and Macth yang mengarahkan dunia pendidikan mengikuti perkembangan industri yang berarti akan mengeksploitasi peserta didik untuk dijadikan robot-robot hidup sebagai pengesahan nilai-nilai konsep kapitalisme yang justru menghancurkan nilai-nilai konsep idealis dunia pendidikan.

Padahal pendidikan yang dicanangkan UNESCO adalah pendidikan yang menyeluruh, yaitu pendidikan yang mengintegralkan segala jenis kecerdasan. Coba tengok cara pandang mengenai kecerdasan,

Pertama adalah kecerdasan beragam, yaitu berpikir mengenai dunia dengan segala cara, yaitu seperti penggunaan rasa secara menyeluruh. Kita berpikir sekaligus secara visual, secara dengar, secara cecap, secara aroma, secara raba yang dilakukan dengan kinestetik. Pendeknya berpikirlah secara abstrak imajinatif, yaitu berpikir dengan menggerakkan mengaktifkan seluruh sense.

Kedua kecerdasan dinamis. Jika kita melihat interaksi otak manusia, otak tidak pernah memisah-misah kedalam batasan ruang yang terpisah-pisah. Faktanya bahwa kreativitas adalah sesuatu yang Robinson definisikan sebagai proses untuk mendapatkan ide otentik yang memiliki nilai lebih sering muncul dari interaksi antar disipliner yaitu cara melihat sesuatu dengan sudut yang berbeda atau dengan sengaja berpikir dari sisi yang lain.

Sehubungan dengan syaraf yang menghubungkan kedua bagian otak yang disebut “corpuscollosum”, batang ini pada seorang wanita lebih besar dibanding pada pria, sehingga sebenarnya mengenai multi tasking wanitalah mampu mengintegralkan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu. Ketiga mengenai kecerdasan yang berbeda-beda di tiap manusia, begitulah keistimewaan kecerdasan manusia.

D. Paradoks Kebebasan Memilih, Internet dan Iklan (adaptasi dari ted talks, “The paradox of choice”, Barry Schwartz)

Tidak bisa disangkal bahwa kehidupan kita dewasa ini tidak akan bisa terlepas dari internet yang di dalamnya memuat apapun dari hal hoax, tidak penting, penting dan amat penting. Dari dunia di balik sana akan bisa diketahui kejadian yang sama diwaktu yang bersamaan, seakan kita telah memiliki kejadian itu sebagai yang terjadi di hadapan secara nyata dialami.

Maka tidak heran kita akan disododori apapun yang sering tanpa daya kritis diterima begitu saja, tidak ada jarak lagi untuk perenungan, sehingga sulit membedakan mana sebenarnya yang kita butuhkan. Iklan tidak lagi sekadar penawaran, melainkan telah memasuki ruang privat kita; by the way benarkah masih ada ruang privat, tidakkah kini telah terjadi budaya narsis berlebihan. Banyak pilihan berjubel yang secara tidak langsung menyusup keseragaman bahasa ungkap yang menurut Baudrillard yaitu segala hal adalah manipulasi, konsumtif, simulasi dan hiperrealitas.

Selanjutnya dalam hal aktualisasi informasi bersifat mendramatisir, penyangatan keadaan menjadi berlebih hingga sampai spektakuler yang di dalamnya terdapat reduksi yang berbentuk pengemasan pesan dan menggunakan sifat dasar manusia akan keingintahuan yang berarti eksploitasi psikologis akan keinginan, keinginantahu sebagai pembebasan dan konsep.

Di bawah ini akan dijelaskan bagaimana beberapa dogma menjadikan bahwa terlalu banyaknya pilihan gambar, gaya dan juga pemikiran yang bila tidak teliti adalah sebentuk sampah internet. Sebagai paradoks kebebasan, diadaptasi dari teori psikologi-ekonomi, yaitu:

1. Dogma Kebebasan Memilih,
adalah memaksimalkan kebebasan individu. Alasannya ialah karena kebebasan adalah hal yang baik, berharga, berguna, penting bagi manusia dan karena saat memiliki kebebasan kita dapat bertindak sendiri dan melakukan hal-hal guna memaksimalkan idealisasi kita dan tak ada seorang pun yang boleh memaksa. Cara untuk memaksimalkan kebebasan adalah dengan memaksimalkan pilihan. Semakin banyak pilihan, maka semakin banyak kebebasan yang dimiliki dan semakin banyak kebebasan yang dimiliki, semakin idealah kita.

Kini dunia sudah ditaburi beragam dari segi apapun teks. Internet telah membuka kemungkinan terhadap apapun yang hingga tidak terhingga, sehingga bagi seseorang untuk memilih yang dia butuhkan akan semakin sulit karena pilihannya terlalu banyak, dari yang bermutu atau sekadar viral, dari hoax atau yang asli, apapun bisa kita pilih sehingga lupa sejatinya apa yang kita butuhkan.

Terlalu banyaknya tawaran pilihan yang secara psikologis akan membuka terus-menerus yang memunculkan berbagai alternatif untuk dipilih karena memungkinkan seakan sebagai tawaran pilihan, karena memang internet telah mengembangkan algoritme pendeteksian setiap individu apa saja kesukaannya atau sesering apa individu menyukai dari apa yang secara umum dibuka/ dinikmati setiap kali berselancar di dunia internet.

2. Paradoks Otonomi Konsumen,
sepertinya terdengar baik, netral dan tidak memihak karena semua tergantung konsumennya. Dari beragamnya pilihan yang berarti kebebasan dalam hal memilih dijatuhkan kepada pribadi konsumennya, tapi sebenarnya ialah memindahkan beban dan tanggung jawab para kapitalis menuju pengambilan keputusan dari kebenaran iklan dalam hal fungsi dan efektifnya sebuah produk kepada konsumennya.

Padahal kita tahu bahwa produk iklan secara tidak langsung berbunyi, “kami memiliki kualitas dan Merk”, yang berarti bahwa sebenarnya kebebasan memilih tidaklah ada secara esensial, paradoksnya bahwa banyaknya pilihan bukan lagi sebagai pilihan yang mungkin melainkan terdapat pemaksaan, terintimidasi, atau tekanan yang tidak disadari oleh konsumen.

3. Dogma Ekonomis/ efisiensi, “Peluang Biaya” menekankan bagaimana penghargaan kita atas sesuatu tergantung dengan bahan pembanding yang digunakan. Saat ada banyak alternatif yang dipertimbangkan, kita mudah membayangkan fitur menarik dari alternatif pilihan yang tidak dipilih sehingga mengurangi kepuasan terhadap alternatif yang telah dipilih. Contohnya saat kita sudah membeli satu produk yang cocok secara ekonomis maka kita sekaligus terus memikirkan produk yang lebih mahal karena pikiran telah mengatakan bahwa produk lebih mahal dan bermerk adalah yang terbagus.

Padahal efisiensi di seni kebalikan dari efisiennya ekonomi, di seni seboros apapun asalkan mampu mengungkap apa yang sebelumnya belum terungkap. Tidakkah kreativitas membutuhkan beberapa eksperimen, mencoba-coba, bermain-main yang tentu akan bersifat untung-untungan.

4. Dogma Beragam Variasi
meningkatkan penghargaan, dia menyukai mengenakan celana jeans, ada masanya saat celana jeans harus membeli lagi dengan harapan pas-nyaman sebagai pengganti yang sudah aus. Dengan banyaknya pilihan jeans di pasaran maka saatnya sulit menentukan pilihan dengan harga terjangkau kantong, ternyata saat dibeli tidak pas di badan, terasa tak nyaman dipakai. Padahal kita tahu bahwa untuk mendapatkan pas dan biar terasa nyaman bila sudah dipakai cukup lama dan dicuci berkali-kali, baru akan terasa nyaman.
Jadi dia pergi hendak membeli celana jeans yang baru, dia bilang pada pramuniaga, “Saya mau celana jeans seukuran saya.”

Pramuniaganya bilang, “Mau yang pas badan, pas nyaman, atau pas longgar? Mau yang pakai kancing apa retsleting? Mau yang kelihatan belel atau keren? Mau yang ada robeknya? Mau yang bawahnya lebar, sempit, bla bla bla…” Dan seterusnya.

Dia bengong atas terlalu banyaknya pilihan. Dan setelah sadar, dia bilang, “Dia mau model yang kuno standart.” Walaupun mata dan passionnya bisa menjadi berbeda, setelah ditunjukkan keragaman yang ada.

Harapan dia terhadap celana jeans yang bagus telah meningkat.Tadinya pengharapan sangat rendah ketika hanya ada satu model. Begitu muncul seratus model, salah satunya pasti sempurna. Yang dia punya itu bagus, tapi tidak sempurna. Jadi dia membandingkan kenyataan dengan harapannya sendiri yang akhirnya menuai kecewaan karena tidak sesuai dengan harapan. Alasan mengapa dulu tampak lebih baik ketika segalanya lebih buruk, ialah saat segalanya lebih buruk ada kemungkinan orang-orang mengalami kejutan yang menyenangkan.

Secara paradoks, bahwa banyaknya pilihan yang ditawarkan iklan (antek kapitalisme) menciptakan kelumpuhan daripada kebebasan. Dengan sangat banyaknya pilihan yang bisa dipilih, orang jadi sangat sulit untuk menentukan pilihan yang memuaskannya. Akhirnya kita akan kurang puas dengan pilihan kita dibandingkan bila menghadapi pilihan yang lebih sedikit.

Salah satunya, dengan begitu banyaknya pilihan memungkinkan yang bisa dipilih jika kita beli satu dan yang satu ini tidak sempurna; adakah yang sempurna? akan mudah sekali membayangkan seandainya kita pilih yang lain yang mungkin akan lebih baik. Yang terjadi ialah alternatif yang kita bayangkan ini akan menciptakan penyesalan atas pilihan dan penyesalan ini mengurangi tingkat kepuasan dari keputusan yang kita buat tadi, walaupun itu keputusan yang baik secara objektif. Semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin gampang penyesalan terjadi yaitu kekecewaan terhadap pilihan yang telah diambil.

E. Manusia Kreatif (adaptasi dari “Kehendak Bebas, Ilmu Quantum, Kesadaran Hati, dan Kreativitas”, Amit Goswami, Ph.D.)

1. Penerimaan dan Ketahanan
Biasanya saya mengatakan bahwa kreativitas tidak eksklusif milik seniman, seperti juga dikatakan Picasso bahwa, “Setiap anak yang terlahir adalah seorang seniman”. Memang anak-anak akan selalu berani untuk menyatakan apapun, tidak ada yang salah atupun jelek; masalahnya bagaimana kreativitas itu tetap dipertahankan hingga sedewasa ini, mungkin bila semasih TK kita akan tetap dalam kondisi “murni”, itupun bila guru TK-nya memahami apa itu ekspresi ataupun kreativitas, tapi bila tidak maka anak-anak akan dikondisikan seperti sanggar yang secara umum dari apa yang ternilai unggul di dalam lomba-lomba melukis anak-anak, yaitu kecanggihan gradasi warna, semua bentuk dibatasi oleh garis pemisah yang tegas dan beberapa patron tentang “jargon” atau “motto” kebaikan dan faktor stiril menjadi utama.

Sedewasa ini kita akan cenderung menjadi mayoritas yang mana perseptual yang berangkat dari operasional yang disebut otak sebagai penyimpan memori yaitu berupa ingatan, ingatan inilah yang sering mengganggu tahap dimulainya penemuan hal baru. Ingatan atau yang sudah pernah kita kerjakan mempengaruhi tanggapan saat ini. Begitulah gangguan sebagai kecenderungan untuk memproyeksikan masa depan dari kenangan/ ingatan yang sama itu yang akan mempengaruhi pengalaman kita saat ini.

Menjadi kreatif adalah keputusan pada saat ini, namun tantangannya kita harus melampaui ego yang sudah terkondisi bahwa kita bersikukuh terhadap identitas, padahal identitas akan selalu bergerak menurut apa yang sebagai pengetahuan kini, saat ini. Padahal kreativitas dibutuhkan sebuah proses, bukan mengulang dari sebentuk identitas sebagi kenangan yang kemarin. Memang pertanyaannya begitu mendasar akan sama siapa diri kita, melainkan jawabannya jelas akan berbeda. Penemuan jawaban yang berbeda itulah dibutuhkan proses kreatif, tanpa proses kreatif, kesadaran memiliki kecenderungan untuk menyerah pada persepsi atas simpanan otak sebelumnya dan hanya mengalami objek material dan peristiwa di dalam ingatan.

Proses kreatif membutuhkan kemampuan untuk merespons tanpa memilah-milah kenangan masa lalu, entah pengalaman indah atau buruk, alam adanya begitu. Jika tidak selaras dengan tujuan alam semesta, semuanya tampak tidak berarti dan berisiko menjadi hedonis yaitu menjelajah ke hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan. Bila cuma begitu maka hidup kita akan digerakkan oleh mimpi-mimpi mayoritas -sebuah rumah besar, mobil yang mahal, dan kesenangan fisik dan material lainnya. Tapi mimpi yang sesungguhnya adalah tentang pencarian sebagai penerimaan bukan kesenangan. Apa bedanya? Terlalu banyak kesenangan selalu berakhir dengan kesakitan bukan sebagai ketahanan.

2. Kebebasan dan Niat
Kita lupa bahwa di dalam kehidupan dibutuhkan kebebasan, dan ketahanan. Kebebasan yang dimaksud mencakup kebebasan kreatif. Tanpa kebebasan kreatif, hidup bagai umumnya/ mayoritas. Kita membutuhkan keseluruhan sebagai pergeseran paradigma, perubahan mendasar dalam memandang dunia. Kita harus melepaskan pandangan dunia materialis yang kabur dan mulai hidup di dunia kuantum, dunia nyata.

Untuk menghindari pengkondisian atau mengulangan identitas sebagai kenangan, kita harus memperhatikan intuisi; kita harus belajar teguh menentukan niat. Kita mesti seperti melewati masa “pingsan” terlebih dahulu untuk menekukan kondisi siuman yaitu memberi banyak waktu pada alam bawah sadar biar menyeruak ke atas sebagai pencapaian wawasan baru. Bahkan saat kita mendapatkan wawasan yang tidak berkesinambungan; sebuah pemikiran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perwujudan baru itu mengubah perspektif kita dan mewakili pencapaian transformasi. Ini tidak mudah walau sebenarnya tidak sulit juga.

3. Menjadi Manusia Kreatif
Sains telah mengabaikan jiwa, mengabaikan makna. Umumnya membicarakan pikiran sebagai sinonim dengan otak dalam budaya materialis, kita menjadi sangat sempit dalam sikap terhadap makna dalam kehidupan manusia. Hari demi hari, masyarakat telah menjadi lebih biasa kemudian terbiasa tanpa makna. Kita telah tercuci otak oleh setengah dari kebenaran sains materialis sehingga kita benar-benar melupakan potensi manusia yang mampu menjadi baru, melainkan kita terus mengulangi pengalaman yang sama.

Manusia modern telah melupakan apa yang mistikus sebut sebagai perjalanan menuju hati, terutama di Barat yang berteknologi dan kemajuan perekonomian. Kita menekan perasaan, sehingga kehilangan sentuhan rasa kemanusiaan. Sebenarnya hal ini mudah bila kita menyadari siapakah diri kita sebagai faktis untuk memperluas kesadaran yaitu, membawa energi dari kepala menuju ke dalam hati, bagai cinta tanpa syarat yang datang kepada kita dengan cara yang sangat alami.

F. Mengikuti Gerak Di Dalam

Mencapai flow, adalah kondisi dimana manusia menyerahkan “total” terhadap suatu kondisi flow, kondisi mengikuti aliran yang tidak terseret, bagi saya ini dinamakan “tertelan”, yaitu tertelan energi sublim yang mana kita amat kecil di dalamnya (pelepasan ego), semacam merasakan ekstasi, mengikuti permainan yang disengaja untuk menjadi membiarkan “mengalir begitu saja”.

Semacam menemukan “sesuatu” yaitu kondisi tertelan oleh lukisan itu, saya baik fisik-mental-pengetahuan-studio-kampung dimana saya tinggal, desa, kabupaten dan seterusnya akan tertelan, semacam ketidakmampuan diri mengelak dari caplokannya. Kejadian ini bukan saya secara sadar membentuk subimitas itu, walau kekaryaan itu adalah saya dan bahan yang sedang diproses, sekan melewati di jalan-jalan yang asing maka kita akan menemukan keragaman kekayaan; bukan karena sengaja melainkan justru lukisan itulah yang menghentikan untuk segera saya tandai sebagai selesai.

Mengalir adalah melepas ego, yaitu seperti kejadian sebelum telapak tangan menumbuhkan jemari, sel-sel yang berada di celah jari akan dengan sukarela saling membunuh dirinya sendiri untuk membantu terbentuknya jari jemari kita. Begitulah alam memberlakukan fitrah demi kelanjutan sesuatu kegunaan. Fitrah adalah sunatullah atau kehendak yang terlihat pada kejadian hukum alam dan ketetapannya.

Bagi Lyotard (1924-1998), sublimitas seni adalah “HERE and NOW” yg berarti kekosongan, tidak ada sesuatu yang terjadi, kekhawatiran, terror yang belum terjadi sekaligus senang dalam menyambut yang “tak diketahui”. Bersifat spontan, mendadak, brutal mengacaukan semua pengalaman yang dikenali sebelumnya. Suatu kejadian yang melampaui “being and nothing” Subjek/ seniman mengalami perasaan ketakterbatasan.

1. Fokus Yang Ambyar
Fokuslah pada ‘bagaimana’ Anda bekerja, bukan ‘kenapa’. Fokus pada yang bagaimana itu berarti terus lanjutkan dengan tanda-tanda apa yang memungkinkan irama (komposisi, warna, dan arah alirannya) di situ yang sudah terbentuk walau masih sedikit atau bahkan masih gejala, turuti roh visual yang ada di situ, ikuti gerakannya. Mengikuti gerakan bukan hanya sekadar melanjutkan otomatisasi saja, bisa juga mengkontraskan, membentur atau memutar haluan ke arah yang memungknkan irama lain. Nikmati keterjagaan penuh.

Ambyarkan fokus bila terdapat pertanyaan “kenapa” karena pertanyaan kenapa akan selalu menggunakan otak otamatis kita untuk segera menyelesaikannya, bersifat tergesa dan pasti akan terbentuk dari kenangan/ ingatan masa lalu sebagai yang kita hargai sebagai identitas. Jangan pernah menetapkan identitas sebelum kita mati, identitas akan selalu bergerak, dan jangan ragu atau was-was toh bila “yang baru” bahkan yang belum kita kenal juga adalah menyenangkan mengapa tidak harus diselesaikan tentunya dengan cara yang baru pula sebagai alatnya.

Kondisi fokus pada bagaimana mirip keadaan tak sadarkan diri itu, saat seseorang tengah khusyuk dan berkonsentrasi penuh, dengan istilah flow atau tahap ketika seseorang merasa dan menunjukkan perfoma nyaman-menikmati-bersemangat. Kita akan lupa diri bahwa kita ada di situ di dalam sedang berproses, kita menjadi transparan, kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.” Kondisi ini bisa dibilang hiperfokus atau “being in the zone”, tidak sekadar kondisi pikiran saja, melainkan disertai perubahan fisiologis. Begitulah kondisi flow masih merupakan suatu ‘kecelakaan’ yang tak disengaja.

2. Melamun Demi Kreativitas
Akhir-akhir ini, waktu senggang umumnya semua orang khususnya remaja hanya diisi dengan menggenggam ponsel pintar atau perangkat lain sjenisnya, membuat mereka menyisakan sedikit waktu untuk berkhayal atau melamun. Saat mata tertuju ke gadget, pikiran kita dalam kondisi yang sangat berbeda dibanding saat melamun. Saat pikiran kita terfokus pada gadget adalah dalam kondisi yang sangat berbeda dengan saat kita melamun. Berkomtemplasi dalam diam di perjalanan panjang dan tidak dihibur oleh layar, baik layar gadget, TV, ataupun layar yang lain hal itu kini dalam kehidupan saat ini dianggap konyol.

Melamun adalah bagaimana kita mengakses pikiran dalam gambaran-gambaran besar tak terjangkau. Saat kita sedang melamun, kita dapat memvisualisasi atau menstimulasi suatu kejadian dengan versi kita sendiri. Visualisasi ini dapat membantu mendapatkan perspektif yang baru atas sebuah masalah atau menghubungkan dua pemikiran (bisosiatif) yang tadinya tidak berhubungan menjadi penyatuan ide yang orisinal.

Pada 2012, para peneliti menemukan bahwa membiarkan pikiran kita melayang dapat mengarah ke pemecahan masalah yang lebih baik dan kreatif. Dan hubungan yang menarik adalah antara bermimpi di siang bolong dan kreativitas pun berlimpah. Banyak pemikir terbesar dunia yang sudah mengungkapkan manfaat dari mengistirahatkan pikiran. Dan mungkin kita juga telah sadar bahwa ide terbaik akan datang saat kita mandi atau jalan-jalan di tempat terbuka.

Otak kita memiliki dua sistem atensi yang berbeda, kata Daniel Willingham (1961-), Profesor Psikologi di University of Virginia, yaitu sistem eksternal dan internal. Sistem internal, yang diaktivasi ketika melamun, disebut jaringan asal. “Jaringan asal secara khusus aktif saat kita berpikir tentang diri kita sendiri, tentang masa lalu, tentang masa depan,” kata Willingham. “Kedua (sistem atensi) tidak dapat aktif pada saat bersamaan, namun mereka akan terhubung dalam beberapa hal.”

Ini mungkin terdengar sebagai perubahan kecil, namun efeknya, dengan bagaimana pikiran kita bekerja dan daya kreativitas kolektif kita, dapat menjadi aset yang menguntungkan ke depan. Bahkan bisa mengusik kemampuan lama kita yang berupa otak otamatis, patron, dan keidentitasan yang dulu pernah dibangun sehingga memunculkan ide-ide segar dan inovatif.

Willingham akhirnya berhenti membawa telepon genggam atau komputernya saat rapat, jika memungkinkan, dan itu telah membantunya mengakses ide yang lebih baik dan unik, katanya. Tambah lagi, dia menyempatkan diri berolahraga, tidur nyenyak dan beristirahat di siang hari, atau tidak jarang menyempatkan pergi ke taman dengan membawa buku catatan dan pensil, untuk mencatat sekiranya timbul lintasan atau menggambarkannya sebagai catatan visual.

3. Khaos Menuju Kosmos
Kita cenderung bermain aman-aman saja bila kita sebagai pemain piano, maka yang kita inginkan adalah memaikan nada di Steinwey Grand Piano. Bila ingin membaca sebuah buku yang diinginkan adalah buku yang tertuliskan dengan font standart calibri ataupun arial, coba kita berusaha membaca Haettenschweiler.

Promotor muda Vera Brandes, masih pelajar di Jerman usia 17 th yang saat itu mempunyai tugas untuk menggelar konser di Gedung Opera Koln, solo jazz konser piano oleh Keith Jarreth (1945-). Sebelum pertunjukkan dimulai Jarreth ngetes beberapa nada, ternyata piano yang digunakan adalah piano “buruk”. Kemudian Jarreth mendiskusikan kepada promotor bahwa dia tidak bisa main dengan piano seburuk itu, akhirnya Jarreth keluar panggung menuju mobilnya hendak ke hotelnya dimana ia menginap. Brandes kebingungan, bagaimanapun juga itu adalah saat perdananya mempromotori di gedung semegah itu, Brandes telpon ke sana ke mari untuk meminjam piano Steinway standart tentunya tidak mendapatkan.

Brandes dengan terakhir kalinya meminta Jarreth yang masih di dalam mobil, dengan perasaan ibu akhirnya Jarreth mengabulkan, “Lain kali tidak, hanya kali ini untuk dirimu”. Ternyata permainan Jarreth kala ini disambut dengan meriah dan rekaman yang direkam ECM Record kala itu justru menjadi mendunia sebagai salah satu masterpiecenya Jarreth.

Jarreth akhirnya tidak memainkan dengan skor/ partitur yang sebelumnya disiapkan, ia memainkannya dengan hati-hati berimrovisasi secara murni kala itu, dia memainkan dengan sambil berdiri menekan tuts menggunakan tenaga yang sekiranya lemah, dan menghindari sebanyak mungkin di tuts-tuts yang benar-benar lemah, dengan berbagai improvisasinya, suasana meditatif yang ditandai oleh jernih berkilauan, memainkan melodi lembut yang masih bisa di dengar di barisan penonton paling belakang. maka lancarlah konser solo itu bahkan menjadi termasuk salah satu yang terkenal di dunia. Moment bersejarah 24 Januari 1975 buat Vera Brendas dan Keith Jarreth (bahwa insting awalnya yang salah terhadap piano buruk) membuktikan malam yang berkesan dan ajaib bagi 1.300 penonton yang menyaksikan pertunjukan solo di lingkungan yang megah.

Psikolog Daniel Oppenheimer mengetes kemampuan siswa dengan soal-soal ujian yang dituliskan menggunakan font jenis Haettenschweiler yang sulit di baca. Bagi Oppenheimer bahwa pengadaan kesulitan yang ditawarkan adalah bahwa font buruk membuka peluang dalam pembacaan akan lebih diperhatikan, lebih konsentrasi, lebih direnungkan hingga menuju kepemahaman yang dalam. Yang buruk sebagai yang unik. Kadang jelek dan cantik dalam sisi seni bukan berarti baik dan buruk tentang moral. Kreativitas selalu memiliki nilai-nilai tersendiri. Sebagian besar orang menganggap sesuatu itu jelek atau buruk karena berdasar budaya dan kebiasaan saja.

 

IMG_20190216_164242
My Art Work 2019 ( Mixed Media, Collage on Paper )

 

 

G. Simpulan

Kehendak bebas mengekspresikan kepribadian adalah sebentuk kreativitas. Bila kita kreatif otomatis sudah menjalankan kebebasan, karena kreatif adalah tidak memilih salah satu dari pola biner, kreatif adalah sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui sebelumnya, sesuatu yang benar-benar baru, bahkan “entah”. Jadi, kebebasan sejati adalah memberikan pilihan yang tidak dapat diprediksi, yang belum pernah dialami sebelumnya, itu benar-benar baru sebagai sesuatu DI MANA EGO TIDAK MEMILIKI KENDALI.

Harus menempuh perjalanan panjang, jangan patah semangat dengan panjangnya perjalan itu nanti, tetap tulus menerima dan penuh ketahanan, seperti peribahasa China, “Perjalanan 10,000 Km dimulai dengan langkah pertama”. Kita harus belajar untuk menjadi kreatif keluar dari tatanan “waras” terlebih dahulu membangun ketahanan mental untuk menjadi “gila”, kemudian dengan energi vital, kita akhirnya berkreasi di tingkat materi yang sama dengan apa yang disebut sebagai keajaiban.

Begitulah keyakinan saya bahwa kita telah lama kelewat batas saat adanya pilihan yang terlalu banyak akan menunjang kebebasan menuju idealisasi sendiri. Dan banyaknya pilihan sebagai manusia modern menyebabkan lupa bagaimana cetak biru alam spiritual telah terpatri sebagai katalis kegilaan di tiap person untuk menjadi pembimbing menuju kreatif. ***

 

Written by : Hari Prajitno 

 

FB_IMG_1550398027669

Advertisements

September 2003

PROSES dan Jati Diri di dalam Seni ( Fine Art )

Perjalanan proses berkreativitas didalam penciptaan karya SENI dan perjalanan spiritual ( Pencarian Jati Diri di dalam Seni / Art )

Ini merupakan sebuah perjalanan proses berkarya dan spiritual ( dalam arti SENI dan proses penciptaan SENI ) yang telah dimakan Lalu atau Waktu yang mungkin menjadikan sebuah proses itu sangat berharga & berarti. Dan proses itu terjadi kalau tidak salah pada bulan September 2003 lalu dan bertempat di Balai Pemuda tepatnya di Gallery 66 Surabaya, yang dimana merupakan tempat berkumpul ( bahkan menetap dan singgah sebagai proses berkarya ) yang paling nyaman bagi Saya dan teman-teman Seniman.

Ini merupakan sebuah proses yang Aktual atau benar-benar Saya alami dan Saya jalani pada waktu itu. Ibaratnya waktu itu Saya masih ngemper atau keleleran dan gelandangan ( lepas dari proses berkarya di rumah singgah / tempat tinggal Saya ) hanya untuk demi sebuah pengalaman berpikir ( Pikir ) secara hidup & Spiritual ( pencarian Jati Diri dalam SENI )

Karena proses dan pencarian akan “Jati Diri ” itu tidak semudah dengan ketika kita membalikk5an kedua sisi tangan Kita ( untuk melihat sisi atas & bawah ). Keyakinan akan adanya ” Jiwa Seni ” dalam diri ini sangat-sangatlah menjadikan sebuah pertanyaan besar dalam proses sebuah Hidup yang benar-benar terpelihara dengan rapi di dalam diri ini.

Problema / Persoalan-persoalan dan tanggung jawab pun tidak bisa di sepelekan ( dibiarkan begitu saja ) dan tidak bisa Kita lupakan / dikira-kira. Karena Kita Ada untuk Hidup, dan Hidup itu sendiri pun juga tidak bisa Kita pungkiri akan segala yang menjadi kebutuhan Primer di dalam komposisinya dan tanggung jawab akan Unsur-unsur yang Ada didalamnya.

Ini bukan persoalan untuk Apa ?! Oleh Siapa dan karna Siapa ?! Untuk Siapa dan harus Dimana ?!

Bukankah Picasso pernah berkata ” Semua Manusia yang terlahir / Hidup adalah Seorang Seniman ”

Proses dan berkreativitas itu Ada karena Kita Ada dan Hidup !!

Dan Waktu yang akan menjawabnya…!!

inshot_20190206_192637514-1388946414.jpg
Sound and Vision ” Drawing Color on Paper “

Kreativitas Mencipta dan Penciptaan Seni ( Fine Art )

Penyangkalan / Penolakan

Seperti yang selalu ( mungkin ) dipertanyakan oleh sebagian besar Seniman ” Mengapa Visual harus dikejar atau dikerjakan dengan secara lelah dan pusing ( mungkin antara ketidak puasan, Kurangnya rasa PeDe pada kemampuan, ketakutan jikalau hasilnya kurang maksimal dan mungkin juga Kita dalam zona aman )

Atau istilahnya : Mengapa harus ada visual gambar, digambarkan atau menggambar ” Draw / Drawing ” Jika Point-point ( yang Kita miliki / ada disekitar ) tersebut akan membentuk sebuah bentuk objek atau garis-garis, dan garis / bentuk tersebut akan mewakili segala unsur-unsur dari gambar atau objek tersebut.

Atau dengan kata lain : Mengapa Seniman harus berkarya ( mencipta / memciptakan ) dengan harus menggunakan tangannya untuk membentuk sebuah goresan-goresan ( menggoreskan ) pada kanvas / karya jika tanpa itu semua juga di maksudkan / dimasukkan kedal kategori penciptaan karya ( kenapa harus dengan tangan kanan ?! )

Bukankah Kita sudah dan telah memiliki itu semua ketika Kita terlahir dan hidup!! ” Seperti molekul-molekul dalam sel-sel kehidupan yang akan membentuk sebuah unsur / objek yang keseluruhanya akan menjadi perwakilan atau mewakili dari semua ( Wholeness ) dan akan membentuk sebuah “Jati Diri ” yang akan menumbuhkan Sel-sel Cerdas yang berfungsi atau yang akan menentukan tujuan dari sebuah proses penciptaan ( dalam Hidup / Hidup )

NB : Semua manusia yang terlahir adalah seorang Seniman ( Picasso )

My Art Work ( cuplikan dari karya terbaru ) Mixed media on Paper 2019→ on Progress

Penghancuran Bidang Pelukisan

PENGHACURAN BIDANG PELUKISAN

Pameran lukisan yang mana karya seni lukisnya yang amat tidak pantas untuk dipajang, ya respon jawaban terhadap penganiayaan fisik dan psikologis dari nazi, perang dunia, kapitalisme, konsumerisme, mekanisasi, totalitarisme, tekanan dan penghancuran sensibilitas kemanusiaan.

Pameran “Destroy Picture” di MOCA 1949-1962 yang dikuratori Paul Scimmel sebagai wajah baru “kill art dada”, mematikan, penghancuran, krisis eksistensi, perusakan, radikalisasi, pembakaran, perobekan, sayat, lubang, gurat dll pada bidang pelukisan.

Tiada lagi pictorial frame semua membeku dingin, diam, ke luar dari, buyar tanpa fokus, dan banal sebagai konsep estetis: Lee Bontecou, Alberto Burri, Lucio Fontana, Salvatore Scarpitta, Kazuo Shiraga, Gérard Deschamps, François, Dufrêne, Jean Fautrier, Adolf Frohner, Raymond Hains, Yves Klein, John Latham, Gustav Metzger, Otto Müehl, Manolo Millares, Saburo Murakami, Robert Rauschenberg, Niki de Saint Phalle, Shozo Shimamoto, Antoni Tàpies, Chiyu Uemae, Jacques Villeglé, Wolf Vostell, dan Michio Yoshihara.

Latar Belakang

Tulisan di bawah ini akan mewacanakan atau menguatkan bahwa hal tentang kehancuran dan pengertian yang analog dengan hal hancur, rusak, tidak seperti sediakala, jatuh pada yang secara umum dimengerti sebagai pengertian negatif, gagal dan yang bila diterapkan pada tindakan manusia adalah salah-kesalahan, gagal-kegagalan, buruk-keburukan, rusak-kerusakan dan bisa-bisa berdekatan bahkan mungkin dengan pengertian dosa-pendosa.

Padahal kita tahu bahwa kehidupan “ada”nya diri kita masing-masing termasuk dalam “ketidaksempurnaan” disamping kehidupan bukanlah milik kita atau bahwa dari apa yang kita miliki di dalam kehidupan adalah juga bagaimana mencari, membuat dan menciptakannya terlebih dahulu sekaligus di dalam proses berkehidupan itu sendiri walau alat seperti anggota badan, pikiran, dan mental telah kita kantongi; tapi bagaimana menggunakannya adalah hal sesudahnya sebagai proses penemuan. Kadang alat/ pengetahuan yang kemarin tidak juga bisa diterapkan untuk hari ini karena memang kekinian akan selalu membutuhkan alat terbaru atau sistem yang menggabungkan dengan yang kemarin dan kini.

Kehidupan memang tidak bisa disamakan cara pemecahannya, kehidupan memang memiliki keteraturan tiada bedanya dengan sistem-sistem alam bekerja hingga manusia mampu menemukan hukum-hukum yang bisa diterapkan secara universal-natural. Tetapi lajunya detil kehidupan sejak “dimunculkannya” manusia menjadi begitu bervariasi dan sulit untuk bisa ditebak diprediksi kemungkinan menjadi pasti. Mungkin sebelum adanya manusia bahwa alam akan bertindak menurut aturan “ya” dan “tidak” bigitu saja, karena memang materi, vegetasi dan hewan akan bertindak begitu itu saja tanpa ada kreasi baru.

Tidak beda sebelum diciptakan manusia, bahwa diciptakannya terlebih dahulu malaikat yang hanya bertindak “ya” saja, malaikat tidak bisa menolak tugas yang diembannya, di dirinya sudah terpatron bahwa cetak birunya hanya begitu itu saja. Begitu juga syaitan hanya bertindak “tidak”, syaitan atau iblis tidak bisa menyetujui tugas yang diembannya, bahwa mustinya tugasnya adalah “menyembah” manusia (adam) tetapi dia menolak untuk itu, yaitu tidak menyetujui yang ditugaskan sehingga dia akan menolak terus-menerus, akhirnya dia “menolak” terus-menerus yang sampai kapanpun akan begitu itu saja.

Tetapi setelah diwujudkan adanya manusia bahwa manusia adalah makhluk yang terkodrat bukan sekadar “ya” saja seperti malaikat dan juga “tidak” saja yang berlaku selalu menolak seperti syaitan. Manusia tercipta untuk menjadi “mungkin”, mungkin ya mungkin juga tidak, tidak seperti malaikat, syaitan, partikel, mikroba, vegetasi, ataupun hewani. Manusia dikatakan sempurna adalah tidak semua itu karena terkodrat “mungkin”, dari manusialah dimulai adanya kreativitas yang memungkinkan begini dan atau memungkinkan begitu.

Berarti bahwa Tuhan juga, maaf (ini pembacaan materialistik non metafisik, non misteri bukan secara spiritual jawa ‘Tan Kinaya Apa’) “tidak sebebas” yang kita kira bahwa penciptaan apapun adalah “bebas”, Tuhan ternyata juga akan “mengikuti hukumnya” oleh sifat-sifat yang diciptakannya sendiri. Apa-apa yang diciptakanNya akan “harus” memenuhi sifat-sifatnya masing masing, kalau “ya” saja akan begitu itu, bila “tidak” juga akan begini ini, dan “mungkin” akan juga bertindak “ya”, “tidak”, dan “mungkin” seperti kita manusia ini. Sehingga bagaimanapun canggihnya pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan manusia, walau kini kita sudah disodori robot “Sophi” (Hanson) yang mampu berdiskusi atau mungkin memprediksi keakandatangan tetap saja itu di ranah “ya” diwakili oleh “1” atau “tidak” yang diwakili oleh “0” dalam algoritma komputasi, karena teknologi belum secanggih dan sekompleks pikiran dan tentu perasaan manusia yang memungkinkan bertindak “mungkin”.

Memang “mungkin” itu juga bukan berarti ke luar dari sistem alam itu sendiri, “mungkin” akan kita wakili oleh hukum “anomali”, “alienasi” atau hal-hal yang memungkinkan atau hal-hal yang tidak bisa ditebak dengan segera. Manusia akan tetap pada kemungkinan melenceng, atau keluar dari tatanan yang telah disepakati. Tidakkah kita juga kadang-kadang suka sering melanggar aturan lalu lintas atau bertindak yang menjurus ke hal-hal di luar kesepakatan yang kita lakukan sendiri secara sadar. Apalagi bila ini diterapkan pada seni yang memungkinkan mengandung keterbukaan dan hal-hal yang lain berkaitan dengan improvisasi, atau sebentuk hukum-norma-aturan yang hanya berlaku pada kondisi di saat itu saja.

Kodrat Mungkin (improvisasi)

Bila bergelut dengan kekreativitas (tidak hanya pada seni) bahwa kreativitas adalah perilaku yang memungkinkan ketidakmungkinan menjadi mungkin, karena memang kita terkodrat untuk mungkin, ya mungkin benar atau salah yang tidak menutup kemungkinan keterbukaan. Begitulah “mungkin” adalah ranah yang mana tidak bisa dialgoritmakan oleh matematika ataupun komputasi secanggih apapun, dan bila kita menjadi salah atau bertindak salah yang sebenarnya itu adalah hal yang alami yang belum memilik pretensi lain selain hanya pada kemungkinan yang mungkin.

Saya katakan kodrat karena memang begitulah manusia yang dianugerahi otak/ pikiran yang membuka terhadap kemungkinan-kemungkinan. Jadi bila berkaitan dengan kemungkinan itu berarti banyak hal yang akan dikesampingkan dan banyak hal juga yang akan diraih demi suatu kemungkinan.

“Kodrat mungkin” adalah juga ketidakrasionalan manusia bila merujuk pada psikologi eksperimental belakangan ini yang dicatat Cohen [Jonathan Cohen, “Can Human Irrationality be Experimentally Demonstrated?”, The Behavioral and Brain Sciences (1981), 317-370]. Kahneman & Tversk di dalam Cohen, bahwa manusia adalah makhluk yang irasional, “orang yang ingin melihat manusia sebagai makhluk rasional, pasti akan menemukan hasil yang mengecewakan,”; atau yang telah diutarakan oleh eksperimen “Teka-Teki Logika” yang ditemukan oleh seorang psikolog kognitif Peter Cathcart Wason yang diberi nama Wason selection task (WST), bahwa cara kerja manusia lebih ditentukan emosinya dibanding pikirannya. Slovic, Fischhoff & Lichtenstein di dalam Cohen, “manusia sering secara sistematis melanggar prinsip-prinsip pembuatan keputusan secara rasional ketika menilai probabilitas, membuat prediksi, atau usaha-usaha lain yang berkaitan dengan soal probabilitas,”.

Tataran irrasional bukan berarti bahwa tulisan ini irrasional bahwa yang menuliskan adalah saya juga sebagai manusia, irrasional di sini tetap akan dibaca melalui struktur rasional agar bisa dipahami sebagai bahwa manusia memiliki watak yang cenderung mengedepankan emosinya/ perasaannya daripada logika rasionalnya. Di sinilah penguatan kata “mungkin” yang telah dimiliki manusia yang termasuk dalam tataran fundamental disamping rasionya yang identik dengan “ya” dan atau “tidak”.

Salah

Tentang sesuatu yang salah yang secara umum adalah hal keburukan atau sesuatu yang harus dihindari sejauh mungkin agar tidak menjadi terulang di kemudian hari. Sehingga secara tidak langsung atau dibawah sadar kita akan menjalankan sesuatu yang hanya yang baik-baik saja padahal itu bila di ranah kekreativitasan menjadi penghambat, bila perlakuan yang “salah” sebagai kambing hitam.

Kesempurnaan hidup sering dan selalu akan ditafsir sebagai yang selalu benar, perfeksionis, selalu mendapatkan nilai di dalam rapot tertulis menggunakan tinta biru A, selalu ingin mencapai yang lebih dan lebih untuk mendapat penghargaan. Sehingga banyak dari kita yang terjatuh pada yang kemudian sudah menjadi tradisi bahwa manusia harus benar, baik, tidak gagal, pintar, bertanggung jawab, berbudi luhur dan aman karena semua itu dari apa yang disukai secara mayoritas. Bukan mewartakan kejujuran siapa diri kita sebenarnya yang secara otentik adalah tidak begitu.

Di sinilah permasalahannya bahwa kehidupan manusia terkonstruk sistem tradisi yang mengesampingkan spiritualitas, kejujuran dan otentisitas, sampai-sampai bila kita ingat di dalam nilai raport di jaman dulu bahwa nilai jelek di bawah angka 6 tertera tinta merah sehingga teman-teman kita bisa mengolok-olok dan yang berarti sistem pendidikan telah menyamaratakan harus mencapai angka biru, menolak atau melarang merah yang berarti salah/ buruk.

Dalam sisi spiritualitas juga bukan sekadar hanya jatuh pada salah satu sisi yang biru melulu yang kemudian membuang yang merah. Di sini spiritualitas adalah yang baik/ biru sekaligus yang buruk/ merah, yang sakral sekaligus yang profan walau bukan berarti kita (yang masih berpandangan spiritual) akan mengajarkan keburukan atau kematerialan. Dualitas biner musti dipahami menggunakan penegasian bahwa “ada”nya kejadian adalah bila tidak ada yang salah bagaimana kita mengetahui bahwa itu benar, karena bagaimanapun kita musti tetap “mencurigai” atau meragukan baik yang benar ataupun yang buruk sekalipun, karena di sana pasti terdapat ideologi tersembunyi dibalik setiap perkataan yang dibangun, termasuk wacana ini.

Dalam hal kreativitas adalah hal baru yang jelas belum memiliki aturan, norma, dan hukumnya untuk diterapkan kepada sesuatu yang baru; jadi bagaimana kita bisa menentukan salah di dalam suatu kerja kreativitas. Tidakkah apa yang dikatakan salah terjadi bila kita terpaku pada kerja yang sudah pernah dilakukan artinya bukan kerja sebagai penemuan hal baru.

Perasaan internal untuk selalu merasa benar ini yang sering kita alami bukanlah suatu panduan yang dapat diandalkan terhadap apa yang sesungguhnya terjadi di dunia nyata. Tidakkah bila kita merasa benar berarti bahwa kepercayaan kita dengan sangat sempurna mencerminkan kenyataan. Benarkah begitu bahwa kenyataan hanyalah satu sisi hanya anda yang benar, ilustrasinya bahwa semua orang dipaksa untuk melihat kenyataan yang nyatanya terbatas bagai melihat satu jendela yang anda bangun sendirian. Begitu tragis mengenai hal ini kita kehilangan bagian penting dari pluralitas menjadi manusia.

Kalau toh mungkin jendela yang anda bangun itu memang benar, betapa membosankannya kehidupan ini. Kehidupan di dunia hanya satu dimensi dimanapun hanya apa yang tertera di jendela itu tidak lebih. Besok begitu, kini begitu, dan jelas akan datang adalah juga begitu itu, abadi. Keajaiban pikiran manusia bukan seperti melihat alam dengan apa adanya, justru keajaiban itu terletak pada bahwa alam kita pandang tidak dengan semestinya artinya mesti kita maknai. Kita kini bisa merasakan masa lalu hingga mempredikasi masa depan, setiap orang akan berbeda cara menilainya.

Descartes mengatakan “saya berpikir maka saya ada,” sementara Agustinus dengan santun menulis “Saya melakukan kesalahan, karena itu saya ada.” Agustinus mengerti bahwa kapasitas manusia untuk membuat kesalahan bukanlah suatu cacat yang memalukan dalam sistem kehidupan ini adalah sesuatu yang bisa diatasi. Hal ini sangat mendasar bagi siapa kita sesungguhnya. Karena, tidak seperti Tuhan, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di luar sana, dan tidak seperti binatang, manusia terobsesi dengan perasaan ingin tahu adalah sumber dan akar dari produktivitas dan kreativitas.

Rusak

Dalam pandangan homo religius (Eliade), dunia ini harus selalu diperbaharui dan diciptakan kembali melalui upacara-upacara yang pada hakikatnya merupakan pengulangan kembali mitos kosmogonis. Salah satu patokan homo religius dalam menilai dunia telah rusak adalah, misal, bila terjadi gagal panen dalam bidang pertanian mereka. Gagal panen telah memberikan petunjuk bahwa kosmos telah kehilangan keseimbangan dan kekuatan untuk memberi hidup kepada manusia.

Filosofi India kuno yang mengatakan bahwa manusia hidup di dunia ini hanya merupakan proses samsara, hingga pada akhirnya semua itu lenyap dan segalanya dimulai kembali melalui reinkarnasi, yaitu penciptaan kembali dan kembali terus menerus. Bagi saya kehidupan bukanlah linier, melainkan sebagai keabadian siklus. Tidak ada pencapaian yang harus benar-benar dipegang erat sebagai kepemilikan abadi. Albert Camus menyatakan, “Manusia melupakan jika ia hidup dan hanya tenggelam oleh ilusi suatu pencapaian”. Maka manusia musti memahami bahwa tidak ada dalam kehidupan ini yang patut dipeluk erat.

Adanya kelahiran sejak awal adalah sekaligus mengingatkan kematian, betapa tidak sejak dari mungkin umur 30 tahun kita sudah berangsur mengalami kerusakan secara ragawi, sel-sel sudah tidak ada yang diperbaharui kecuali hanya perbaikan-perbaikan di dalam jumlah sel yang kuantitasnya sama, termasuk bagaimana diingatkan tentang sakit, bahkan bila kita sudah menginjak usia 45 tahun bahwa teman-teman kita atau bahkan salah satu dari keluarga kita akan mengalami kerusakan raga, sakit yang kemudian mati.

Kematian

Kematian juga bukan merupakan hal baru bagi homo religius. Sebab dengan menjalani berbagai macam upacara inisiasi, dia sudah mengalami kematian itu. Maka dalam pemikiran homo religius, kematian tidak berarti kehancuran total dan final, melainkan kematian adalah upacara inisiasi yang paling besar. Dengan demikian hidup ini berakhir tetapi dimulai hidup lain yang lebih tinggi kualitasnya, lebih spiritual, lebih hakiki (Eliade di dalam Sastrapratedja). Oleh karena itu pula homo religius memandang hidup ini secara optimis, bahkan kematian pun mendatangkan kebaikan.

Carl Gustav Jung, menyatakan bahwa kehidupan hanya dapat dimaknai melalui kematian. Pernyataan tersebut dipertegas oleh Walter Bromberg dan Paul Schilder dengan menyatakan bahwa semua yang hidup pasti memiliki libido, dan setiap yang memiliki libido akan berakhir dalam kematian, sehingga kematian merupakan simbolisasi paling tepat atas kehidupan
The Myths of the Eternal Return: Or, cosmos and history, Eliade menjelaskan bahwa masyarakat kuno/ arkais mengakhiri sejarah dan ingin kembali pada satu titik nir-waktu ketika sesi dunia mulai diciptakan. Masyarakat kuno sangat dipengaruhi oleh misteri kematian dan meyakini kehidupan ini tidak memiliki tujuan dan arti sehingga menginginkan sesuatu yang penuh arti, kekal indah, dan sempurna.

Homo religius, menurut Eliade juga memiliki konsep eskatologi. Homo religiosus percaya bahwa dunia ini pasti berakhir dalam suatu malapetaka yang menghancurkan, entah pengulangan malapetaka atau berupa malapetaka yang hanya terjadi satu kali pada akhir dunia itu. Setelah itu mereka percaya akan ada dunia baru, yakni dunia yang diidambakan.
Hidup manusia merupakan perkembangan lahir-hidup-puncak kehidupan. Perpindahan dari tahap lahir ke tahap hidup yang lain merupakan bagian dari keseluruhan sistem perpindahan yang kompleks. Sewaktu dilahirkan di dunia, manusia belum sempurna adanya. Untuk menjadi sempurna, manusia harus mengalami berbagai bentuk perpindahan. Dengan perkataan lain, menurut pemikiran homo religius, manusia sempurna itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus dikreasi.

Manusia akan mengalami perubahan eksistensial. Ia dilahirkan menjadi manusia pada dasarnya memiliki suatu pola umum, yaitu lahir sebagai bayi yang tidak bisa apa-apa (kecuali “bayi” vegetasi ataupun hewan yang lebih mampu berdiri sendiri/ kecuali bayi burung), hidup adalah berkreasi-eksistensial, dan menuju puncak kehidupan yang berarti memaklumi kematian yang dinanti.

Simpulan

Memang kandungan kata-kata di atas bukanlah definisi yang biasa dipahami secara common sense, mereka musti dipahami sebagai pengertian yang filosofis, atau setidaknya dalam pengertian metafor ataupun alegori bahwa nilai kata itu bukan sekadar melekat secara umum yang diketahui melainkan justru maknanya adalah apa yang dibalik yang terkandung.

Tidak ada lagi “pictorial frame” atau peletakkan simbol yang ditorehkan di atas bidang datar atau dibentukkan melalui ketigadimensionalan belaka. Maka mereka sebagi seniman yang mewujudkan kerusakan sebagai konsep estetiknya, bahwa apa-apa yang salah, rusak dan mati untuk mengingatkan bahwa secara faktis manusia musti bergerak secara kreatif demi eksistensialnya membuka peluang yang mungkin-mungkin sekiranya bisa memungkinkan, daripada harus mengeluh ataupun bersikap merugi, karena memang kehidupan bukanlah milik manusia sepenuhnya. ***

 Written by : Hari Prajitno 

FB_IMG_1549208266608

Method of Art ( Fine Art ) creation

METODE PENCIPTAAN SENI (rupa)

Tulisan ini sebenarnya adalah tugas dari mata kuliah Metode Penciptaan Seni yang diampu oleh Prof Dr Martinus Dwi Marianto MFA untuk dijadikan buku saku sebagai tugas akhir mata kuliah itu di Pascasarjana S2 ISI-Yogyakarta yang diberi judul “Jumping Out of The Box”, tidak diterbitkan, 2015. Saya sebarkan silakan dibaca, dishare, ataupun silakan dicopy agar bisa dibaca dengan seksama, karena ini berkaitan dengan mencoba-coba dan eksperimentasi lainnya.

Latar Belakang (Bergerak Ke Arah Kreativitas)

Seni dan Rasio adalah dua sisi mata uang yang saling berseberangan, melengkapi untuk memaknai realitas dunia kebudayaan yang berisi gagasan, aktivitas, dan artefak yang merupakan perwujudan adanya manusia yang mengatasi kehidupan ini. Rasio lebih condong kepada pola pemikiran yang terstruktur, linier, sistemik dan logis. Sementara seni bergerak ke arah pola kreativitas, intuitif dan tidak terduga yang memungkinkan melompat dan merevisi.

Arah kreativitas diperlukan pertama adalah gerak diversi yaitu gerak yang bersifat meluas, mengusahakan menangkapi hal-hal yang memungkinkan, tunda penilaian yaitu jangan dulu menilai, jangan menghambat liarnya lintasan-lintasan ide, kejar kuantitas agar lebih kaya opsi, kembangkan ide hingga tanpa batas-batas sebagai perluasan dari pokok soal. Kesemua itu memungkinkan memunculkan ide-ide yang tidak biasa, ide-ide di luar kebiasaan pada umumnya. Kedua yang mendukung penajaman arah kreativitas adalah konversi yaitu pusatkan atau pilih-pilah sebagai nilai-nilai yang dicari sebagai tujuan, buatlah kriteria terfokus tujuan dan buang yang tidak sesuai walau tetap terbuka pada ide yang tidak biasa. Pilih secara tegas dan tetaplah selalu mengembangkan ide.

Orisinalitas seni bukanlah harus benar-benar baru, karena sebuah penciptaan tidaklah berangkat dari kenihilan “in nihilio”, tetapi berangkat dari beragam pengetahuan dan percobaan yang memungkinkan kemunculan hal baru yang berupa sintesa ataupun dialektika, dari keselarasan ataupun kekontradiksian.

BAB I.
OBSERVASI

Observasi: ‘mengamati’ (to observe: inggris) yang kata bendanya ‘pengamatan’ (observation) yaitu mengamati dengan seksama, mempelajari dengan cermat sampai ke detil-detilnya. Pengamatan terperinci akan meleburkannya diri pengamat ‘I’ terhadap objek yang diamati, sehingga ‘I’ menjadi ‘me’, tiada beda antara pengamat dan yang diamati sampai puncak menemukan insight (hal yang fundamental), pribadi, particular, personal, khas, spesifik, bahasa kalbu dan atau esensial.

Objek apapun baik objek benda mati atau hidup, sebentuk fenomena dan sebagainya adalah tergantung diri kita sendiri seberapa jauh kecenderungan dan ketergantungan dari apa-apa yang melatarbelakangi. Karena pemahaman tak pernah ‘tunggal’, dia berkembang, bergerak, bahkan sampai menampakkan ‘sinar’nya.

Sebagai contoh Michelangelo yang sedang mengamati sebongkah batu pualam, dia berlama-lama mengamati hingga sampai berhari-hari mencermati permukaan (ingat Affandi), merabai kedalaman, menimbang kekerasan demi sifat batunya. Pengamatan baginya adalah hasrat yang istimewa sebagai bagian dari penciptaan untuk mendapatkan insight yang begitu subjektif yang lambat laun akan juga mengenali pola-pola tertentu yang bersifat alamiah, menemukan bagian yang absen/ suprasegmental dari yang orang lain sudah temukan maka kita temukan sisi yang lain.
Pengamatan tidak sekadar melibatkan mata tetapi juga panca indera yang lain seperti peraba, pencium, pendengaran, dan pencecap. Amati secara bebas dan alami, bukan hanya permukaan tetapi sungguh-sungguh mengetahui makna yang terkandung sehingga memunculkan pertanyaan ‘mengapa’.

A. Langkah-Langkah Observasi (contoh di bawah adalah objek benda mati)

1. Amati dengan mata dengan seluruh sense; lalu ajukan pertanyaan.
2. Silakan dicium aromanya, relasikan dengan objek-objek disekeliling, gabungan dengan beberapa sumber yang lain (membaca, mendengar) tentang objek; lalu ajukan pertanyaan.
3. Tulis secara detil menyangkut tampilan visual, materi pembentuknya, ukuran fisik dan unsur-unsur lain seperti kontekstual (tempat dimana dia berada dan tumbuh). Hal inilah yang akan memunculkan moment estetik (sekejap) yang dulunya sebelum diamati adalah hal biasa yang kini sesudah diamati memunculkan kemenarikan, kebermaknaan sebagai insight.
4. Proses no.3 adalah mengaitkan hal-hal yang tadinya tidak berkaitan menjadi sesuatu yang bermakna. Tuntutan berfikir biasosiatif yaitu menggali kemungkinan-kemungkinan dari hal-hal yang kasat mata dan bersifat imajiner menjadi makna yang dapat dipahami secara nyata.

B. Manfaat Pengamatan

Dari pengamatan terdapat banyak peluang kemungkinan yang bisa dijadikan sumber penciptaan/ inspirasi sebagai kekuatan untuk mendobrak aturan agar berubah ke arah yang proporsional. Sedangkan manfaatnya adalah:

1. Keterbuakaan terhadap apapun, membuka diri terhadap hal-hal ‘baru’ sebagai pangkal ruang imajiner.
2. Segala sesuatu menjadi lebih bermakna.
3. Terbuka potensi-potensi dan fungsi-fungsi baru.
4. Pemahaman baru yang mendasar/ insight.
Begitulah observasi akan mendorong kebaharuan-kebaharuan, memunculkan kemungkinan di dalam sebuah karya seni.

BAB II.
METODE BRAINSTORM

Brainstorm, pencurahan ide yaitu membuat jejak-jejak yang berupa tulisan. Menurut Dwi Marianto, brainstorm adalah salah satu kerja individual atau kelompok dengan mengaplikasikan asosiasi bebas, keleluasaan berfikir guna menjaring ide baru yang segar untuk mencari solusi atas suatu permasalahan.

A.Tujuan Brainstorming

Bisa dilakukan oleh individu atau kelompok, dilakukan tidak lebih dari 6 orang untuk memunculkan ide bebas, liar, dan baru sama sekali. Kata lain adalah sebagai upaya pembebasan pikiran dari mengkritisi, menilai dan mengevaluasi. Brainstorming harus dilakukan secara spontan dan jangan di rem-rem oleh rasional, logika tertentu seperti adat dan konvensi lainnya.

B. Pemahaman Brainstorming

1. Menangkap lintasan ide-ide liar yang bergerak.
2. Menangkap yang liar di luar tatanan.
3. Memunculkan intuisi tanpa pretensi.
4. Membiarkan ide mengalir tanpa henti.
5. Segala hal adalah unik, absurd, dan luar biasa.
6. Keluar dari kotak, nakal, bermain, dan humor.

C. Memulai Brainstorming
Ketahuilah bahwa segala hal adalah subjektif tanpa mengkhawatirkan orang lain dan kebutuhannya. Masing-masing individu memiliki criteria bawaan, kita bebas menggunakan otak dan rasa untuk menghasilkan gagasan. Memulai segala hal tanpa batasan.

D. Aturan Brainstorming

1. Pertajam fokus, rumuskan masalah dengan jelas.
2. Jangan mengkritik, mendebat, dan mengevaluasi.
3. Lontarkan ide-ide nakal, gila dan tanpa direm-rem.
4. Keluarkan ide-ide yang berkaitan sebanyak yang ingin dikatakan/ dituliskan dalam waktu tertentu.
5. Membangun bertahap atau melompat, berjalan cepat, atau berlari. Fokuskan energi hanya pada ‘hal itu’ sekaligus mengembangkannya.
6. Tuliskan aliran ide berupa garis-garis penghubung, ide yang satu ke ide lainnya bisa saling terkait baik yang dekat atau bahkan jauh.

E. Manfaat Brainstorming

1. Curah pendapat yang baik dapat memberikan perasaan lega (katarsisis), fantastis dan menumbuhkan ide cemerlang.
2. Menemukan kesatuan rajutan sebagai solusi terbaik bagi pemecahan.
3. Melatih meregangkan pikiran untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda.
Brainstorming adalah metodologi untuk melupakan gravitasi. Sesudah kita membuatnya, maka pungutlah beberapa poin dari garis-garis spiderweb link pikiran sebagai pijakan.

BAB III.
INTERPRETASI SEMANTIK DAN PENYANGATAN

Semantik: arti kata, 1. Ilmu tentang makna kata dan kalimat, pengetahuan mengenai seluk beluk dan pergeseran arti kata. 2. Bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkap atau struktur makna suatu wicara; Interpretatif adalah penafsiran, jadi interpretasi semantik adalah penafsiran kembali atas teks yang dicocokkan dengan sifat dari arti katanya. Penyingkronan bentuk dan pesannya.

Menurut M Dwi Marianto, semantik adalah kata sifat yang berkaitan dengan linguistik, artinya berkaitan dengan makna dari kata, frase, kalimat atau sistem. Interpretasi semantik merupakan alat untuk menginterpretasi suatu karya/ desain/ koreografi. Secara operasional dengan interpretasi semantik dapat membantu melihat hubungan antara substansial karya dan bahasa ungkap/ ekspresi.

Sesudah diinterpretasi maka dilanjutkan dengan proses penyangatan (exaggeration) yang bisa berbentuk karikatural, stilisasi, deformasi, aksen, distorsi dan lain-lain.

A. Pemahaman Interpretasi Semantik

Adalah penafsiran kebahasaan, tanda, dan gambar kasar. Di dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai penggunaan interpretasi semantik yang tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan, terutama dalam hal pemilihan warna. Penggunaan dan pemilihan warna yang tidak tepat akan dapat mempengaruhi respon psikologis seseorang akan sesuatu.

Tanda memang memiliki dua kemungkinan:

1. Hal yang alami.
2. Sebagai kesepakatan.

Memvisualkan makna kata lewat tulisan-tulisan adalah merupakan ekspresi diri lewat kata-kata. Dengan daya interpretasi semantik kita dapat mengasah imajinasi dan kreativitas dalam mencipta karya seni agar sesuai dengan konsep yang akan diwujudkan.

B. Manfaat Interpretasi Semantik

Banyak manfaat yang bisa dipetik dan dijadikan acuan dalam memcipta karya seni agar sesuai dengan bahasa ungkap yang kontekstual. Melatih kepekaan rasa untuk memvisualkan makna kata lewat tulisan-tulisan mengungkapkan ekspresi lewat kata-kata yang dapat mengaktifkan daya imajinasi.

BAB IV.

TANGRAM

Tangram adalah terdiri dari tujuh potongan geometris yang dimulai dari satu bujur sangkar yang kemudian dipotong menjadi 7 bagian yang terdiri dari : dua segitiga besar sama sisi, satu segitiga sedang, dua segitiga sedang, dua segitiga kecil samasisi, satu trapesium, dan satu bujur sangkar.

Inti dari permainan ini adalah menyusun tujuh potongan geometri di atas sampai habis yang hanya diperbolehkan berhimpit dan menyentuh, bukan bertumpukan; menjadi wujud-wujud yang tidak terbatas. Misalkan bentuk hewan, tumbuhan, dan manusia dan aktivitasnya. Aneka benda-benda, kendaraan atau apapun yang memungkinkan disekitar kita.

A. Sejarah Tangram

The Ancient Chinese Shapes Games, diperkenalkan di Cina yang dikenal dengan istilah “ Ch’i Ch’ae Pan” berasal dari era Chu (740-330 Sm). Di eropa pertama kali pada tahun 1805 berawal dari publikasi “Neus Chinesidches Ratselspiel Fur Kinder. Di Perancis, Belanda dikenal di paruh abad ke-19, tangram menjadi permainan teka-teki yang abstrak.

B. Peraturan dan Aplikasi Tangram

Peraturannya : semua potongan yang berjumlah tujuh buah itu harus digunakan untuk membentuk suatu figure tertentu dan menurut kategorinya. Ketujuh potongan itu harus disusun datar bersentuhan dan tidak boleh diberdirikan atau bertumpuk. Tentang pepatah ini ada satu ungkapan Cina yang mengatakan bahwa “pengendalian dan pengekangan mengungkapkan sifat-sifat seorang master”.

C. Manfaat Tangram

1. Dari segala sesuatu yang sederhana (7 potongan), kita dapat membuat hal-hal yang kompleks.
2. Melatih membentuk, memadukan, mengenali kepekaan visual, kepekaan asosiatif, kepekaan abstraksi dan kemampuan motorik.
3. Kita bisa mengenali kecenderungan-kecenderungan dan interest seseorang dari bentuk-bentuk yang dibuat.

BAB V.
TEORI GESTALT

Gestalt ditemukan oleh psikolog Max Wertheimer (1880-1943) di tahun 1912. Gestalt adalah bentuk, wujud, peristiwa, hakikat, esensi dan totalitas. Yaitu mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan/ totalitasnya. Kata kuncinya adalah kognitif (proses pembelajaran mental seperti berpikir, merasakan, mengingat dan belajar yang kesemua itu terkait pada memori, bahasa, berpikir, dan membuat keputusan).

Kognitif Gestalt:

Insight (wawasan) yaitu beragam pemecahan masalah secara jitu yang muncul adanya proses pengujian berbagai dugaan/ kemungkinan (probable).

A. Hukum-Hukum Gestalt

1. Pragnan: cenderung ke arah bermakna/ meaningful/ penuh arti.
2. Kesamaan: hal-hal yang sama ke arah gestalt.
3. Kecenderungan: berdekatan cenderungan gestalt.
4. Ketertutupan: yang tertutup cenderung gestalt.
5. Kontinuitas: berkesinambungan selalu ke arah gestalt.

B. Implementasi Gestalt

1. Pengalaman insight, mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek.
2. Pembelajaran ke arah penuh arti/ meaningful.
3. Bertujuan (purposive behavior).
4. Ruang lingkup kehidupan (lifespan).
5. Transfer pola-pola perilaku ke yang lain.

BAB VI.
BERPIKIR LATERAL

Pola berpikir terbagi menjadi dua bagian :

A. Skema Linier

1. Selektif.
2. Bergerak bila memungkinkan ada arah/ satu arah saja.
3. Analisis.
4. Berurutan/ linier.
5. Harus tepat pada setiap akan melangkah.
6. Memusatkan perhatian dan mengesampingkan yang tidak relevan.
7. Kategori, klasifikasi.

B. Skema Lateral

1. Generatif.
2. Bergerak agar dapat mengembangkan satu jurusan.
3. Provokatif.
4. Melompat/ lompatan.
5. Tidak harus dalam setiap melangkah.
6. Menerima semua kemungkinan dari pengaruh luar.
7. Tidak ada kategori dan tidak ada klasifikasi.

Sejarah awalnya diperkenalkan oleh seorang oleh matematikawan Henry Ernest Dedeney (1857-1930) di dalam bukunya “Puzzle Collected From The Works of The Late” (1951) dan Sam Loyd “Cyclopedia of Puzzle” (1914). Kemudian Edward de Bono seorang dari Malta-Italia, menuliskan “lateral Thinking” (1967) yang kita terjemahkan menjadi, “Berpikir di Luar Kotak”. Di dukung oleh “Teori Gestalt” dari Max Wertheimer (1912) dan “originlitas” oleh Irving Maltzman.

C. Lateral Thinking, Edward de Bono

1. Masukan acak, “Method of Focal Objects”, secara brainstorming yang spontan dan terkait.
2. Provokasi: menyatakan persepsi umum hingga ke luar batas/ alternative provokatif.
3. Sebagai tantangan: keluar dari kebiasaan sehingga memiliki persepsi yang baru.
4. Keluar dari zona aman, zona aman akan menutup kekreativitasan, karena zona itu sudah ada jauh sebelumnya yang menjadikan kita aman-aman saja.

D. Langkah Berpikir Lateral

1. Tinggalkan keraguan, jangan takut salah karena segala hal memiliki resiko.
2. Dengarkan orang lain, terbuka dan menerima (positif thinking).
3. Keterbuakaan atas apa-apa, melakukan hal yang berbeda, asing, aneh, tidak pada umumnya.

E. Fungsi Berpikir Lateral

1. Upaya meninjau kembali terhadap pola pandang dalam mengorganisasi informasi.
2. Mengubah persepsi suatu objek/ masalah atau dilihat dari sudut sebaliknya (dekonstruksi Derrida).
3. Mencari cara pandang di dalam diri sendiri, karena segala hal berangkat dari perspektif.
4. Persepsi harus berhubungan dengan eksplorasi.

F. Manfaat Berpikir Lateral

Dapat digunakan dalam mengatasi kebekuan pola pandang sebagai upaya membangkitkan persepsi baru, persepsi alternative untuk merombak habitus lama (pola lama yang dibentuk oleh lingkungan). Mampu melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda yang tadinya linier menjadi dinamis (keluar kotak/ pagar). Artinya suatu cara agar kita mampu keluar mampu dari keseharian, rutinitas, penjara ideologi tertentu guna menelurkan kreativitas (seni) dan inovasi (sains).

BAB VII.
POWER OF NOW

1. Rahasia hidup adalah “matilah sebelum anda mati”, yaitu sebagai mengagungkan kehidupan itu sendiri.
2. Dengan panca indera kita tahu bahwa siapa Allah dan alam semesta yang maha luas tak terkira ini atau bahkan ada yang menyangkal kalau dia tahu benar, karena adanya yang lain sehingga dia mampu menyangkal.

a. Allahku adalah satu-satunya allah yang benar yang berarti bahwa allahmu adalah palsu.
b. Tuhan sudah mati.
Kedua pernyataan di atas ternyata tidak dapat dibuktikan bahwa kita benar memiliki ilmu pengetahuan terhadap itu.

3. Descartes, ‘aku berpikir maka aku ada’, seakan/ ternyata bahwa apa yang diucapkan Descartes berarti berpikir disamakan dengan proses yang tidak berkelanjutan, artinya telah mereduksi bahwa di sana tiada identitas/ kontekstual.

4. Beberapa pendapat”

a. ‘jika tidak sekarang, kapan lagi ?’
b. ‘orang-orang sufi adalah anak dari kekinian’
c. ‘masa lalu dan masa depan adalah tabir allah, maka bakarlah keduanya dengan api’ (Rumi juga Adawiyah).
d. Di dalam diri (tubuh) bukan di luar tubuh adalah kekinian.
– Sangat luas
– Mendalam
– Tidak pada eksisistensinya.
– Atribut transenden.
– Spasi antara eksisistensi dan esensi adalah kedalaman tak terbatas.

e. Luminositas lembut

Bangkitlah, berjalanlah keliling, aku belum pernah melihat itu sebelumnya, segala sesuatu segar dan murni, seolah ada yang baru secara tiba-tiba di saat itu (observasi detil menyeluruh).

BAB VIII.

KARYA SENI, KUANTUM, DAN PEMAHAMAN HIDUP

A. Karya Seni dan Kuantum

Karya seni bila ditinjau dari pemahaman kuantum dapat dilihat dari aspek fisik (partikel) yang konkret dan terukur besarannya; namun pada derajad yang sama ia juga bisa dilihat sebagai suatu gelombang yang mengandung makna, pesan, dan rasa yang membangkitkan asosiasi-asosiasi. Karya seni memungkinkan dipandang dari pemartikelan dan penggelombangan yang memungkinkan sebuah pemaknaan akan berjalan dan berlanjut terus-menerus tergantung dari siapa, konteks dan kegunaannya. Jadi penafsiran dan penilaian karya seni tergantung pada bagaimana karya ditempatkan dan dipandang atau keterkaitannya.
Pandangan tentang realitas fisika kuantum sangat penting untuk dipakai mengkaji atau mengapresiasi seni. Karya seni pada prinsipnya dapat dilihat sebagai dualitas, namun dalam arti ia dapat dilihat dari aspek partikelnya atau dari aspek gelombangnya.

Pendekatan yang dapat dipetik dari teori kuantum:

1. Karya seni memiliki dua aspek yang tak terpisahkan, aspek material (fisik) dan aspek nonmateri (makna/ pesan/ penafsir/ penilaian).
2. Kritik seni, tergantung bagaimana menyikapi karya seni yang sedang dikritik.
3. Keterkaitan, sebanyak-banyaknya memperoleh informasi/ data akan keberadaan karya tersebut; seperti aspek-aspek apa saja yang mempengaruhi, dimana, dan kapan.
4. Peleburan Seniman sebagai kritikus dan karya seni itu sendiri.

B. Daya Hidup

Dekatkanlah pada sesuatu yang positif dan produktif/ hidup daripada harus negatif dan mematikan. Karena seni yang baik akan membangkitkan, merangsang, dan menggairahkan daya kehidupan; kata lain seni yang baik adalah yang mampu memberikan kekuatan untuk hidup positif.

Levitasi, adalah gerak yang berlawanan dengan gaya gravitasi (dari atas ke bawah) yang bisa berkonotasi “terseret arus menuju ke bawah/ tanah”, “tanpa tenaga”, dan “kematian”. Tetapi levitasi adalah bergerak melawan arus air, kebalikan dari gravitasi yaitu daya dari bawah menuju ke atas.

Satu pertanyaan tentang “apel”nya Newton, dia hanya melihat jatuhnya sebuah apel, bukan bagaimana buah apel itu bisa sampai di pucuk-pucuk ranting. Mengenai hal ini Victor Schauberer 1885-1958) menjelaskan bahwa levitasi adalah:

1. Daya mempercepat/ mengangkat menuju ke atas.
2. Daya yang menyebabkan keberlangsungannya kehidupan.
3. Daya yang menuju ke atas yang berarti adalah pertumbuhan.

Selamat Berkreasi, kreativitas adalah anugerah, masing-masing dari kita adalah unik, masing-masing diri adalah satu berbanding sebanyak manusia di bumi (1:6.000.000.000. 000), sepasang anak kembarpun walau itu siam akan memiliki perbedaan. Catatan, bacalah berulang tidak perlu dihafal, bacalah dan praktekkan sebagai pengalaman agar mendasar di dalam hati, walau toh di dasar “ketidaksadaran” entar akan menyembul bagai roket.

Catatan : Saya kira metodologi ini tidak menutup kemungkinan untuk seni-seni yang lain atau yang bersangkutan dengan kekreativitasan, semoga bermanfaat.

Written By : Hari Prayitno

FB_IMG_1549206254086

To be and To do

Surabaya 2019/01/11, Friday
” to be and to do ”

→ (Cuplikan dari karya baru Saya, 2019 )
This is a snapshot of one from my latest paintings 2019
Mixed media on Paper

“…ini bukan sekedar persoalan Ekspresi atau Eksistensi (keberlanjutan) akan tetapi ini persoalan Kreatif/Kreativitas atas Apa ( What? ), Kenapa ( Why? ) dan dimana ( Where? ) proses keberlanjutan ini bisa di pertanggung jawabkan n di persoalkan ( menjadi persoalan ) di dalam wilayah kehidupan( hidup ) mulai dari kita ada ( hidup ) sampai tiada ( fana ) untuk sebuah proses penciptaan kreativitas.

#drawing #drawing2019 #kreatif #kreativitas #artwork #artstudio #purwant09studio #surabaya #mixedmedia #artbrut #daily #dailydrawing #merz #artist #dada #freedom #tangankananstudio #progress #what #why #where #collage #art

Kurt Schwitters

Kurt Schwitters’ Art of Redemption

04/17/2013 04:33 PM ET|Updated Dec 06, 2017

 

Kurt Schwitters was one of the most engaging mavericks of the art of the 20th century. His art is invariably grouped with Dada, although personal clashes prevented him from being admitted formally to membership, and by nature he would never be fully committed to any collective movement, even one of protest: his lack of interest in politics set him apart from the main group of German Dadas, as did his residence in Hanover rather than Berlin. Yet paradoxically Schwitters was intrinsically a Dada: the Dada poet Tristan Tzara wrote that Schwitters was “one of those personalities whose inner structure was always Dada by nature. He would still have been Dada even if the Dada call had not been sounded.” By 1918, at the age of 31, he had discovered that he was not at heart a painter, but that for him the essence of art lay in the combination of existing materials. In 1919 he named his personal form of collage “Merz,” to signal that his pictures were distinct from Cubism, Expressionism, or even Dada, and over time he extended the name to all his activities, including poetry and performance.

 

2013-04-17-schwitters_bannerk_enmorn1947b.jpg
Kurt Schwitters, En Morn (1947). Image courtesy of the Tate Britain.

To busy myself with various branches of art was for me an artistic need…It was my desire not to be a specialist in one branch of art, but an artist. My aim is the Merz composite art work that embraces all branches of art in an artistic unity.

Merz stands for freedom from all fetters, for the sake of artistic creation.

 

Schwitters left Germany in 1937, after his work as condemned by the Nazi government as “degenerate.” He spent three years in Norway, then left for England when the Germans invaded Norway. After being interned for a year as an “enemy alien,” he lived in London for the next four years, then moved to the English Lake District, where he lived until his death in 1948.

 

2013-04-17-schwitters_merz_0.jpg
Kurt Schwitters, Merz Picture 46 A. The Skittle Picture(1921). Image courtesy of the Tate Britain.

When Schwitters died, he was poor and largely forgotten by the art world. But the rise of assemblage and neo-Dada in the 1950s and ‘60s brought a renewed interest in earlier forms of radical conceptual innovation, including a new appreciation for Schwitters and Merz. So for example in the catalogue for the Museum of Modern Art’s 1968 exhibition, Dada, Surrealism, and Their Heritage, William Rubin described Schwitters’ three-dimensional Merzbau as a prototype for environmental sculpture, and Schwitters as a prophet who anticipated Robert Rauschenberg’s goal of working in the gap between art and life.

 

2013-04-17-schwitters_john_bull.jpg
Kurt Schwitters, C21 John Bull (1946/47). Image courtesy of the Tate Britain.
2013-04-17-schwitters_stein.jpg
Kurt Schwitters, Anything With a Stone (1941/44). Image courtesy of the Tate Britain.

Schwitters’ art was highly personal, in content as well as form. His works reflect his environment and activities: not only the ubiquitous bus tickets, but laundry receipts, newspaper clippings, envelopes from correspondence with friends, and food labels from care packages sent by an American friend. British Made (1940-45) contains a label with that phrase, next to – of course – London bus tickets, and fragment of a German shipping timetable, to make a chronicle of his travels. A 1947 collage includes a newspaper title, “Mr. Churchill is 71.” Schwitters used his art to enact his motto: “Create connections, if possible, between everything in the world.”

 

2013-04-17-schwitters_untitled_3.jpg
Kurt Schwitters, Untitled (This is to Certify That) (1942). Image courtesy of the Tate Britain.

Then he would pick up something which would turn out to be an old scrap of paper…He would carefully and lovingly clean it up and then triumphantly show it to you. Only then would one realize what an exquisite piece of color was contained in the ragged scrap. It needs a poet like Schwitters to show us that unobserved elements of beauty are strewn and spread all around us and we can find them everywhere…if only we care to look, to choose and to fit them into a comely order.

 

2013-04-17-schwitters_T01259_10.jpg
Kurt Schwitters, Relief in Relief (ca. 1942/45). Image courtesy of the Tate Britain.

 

 

***** Translate Indonesia *****

Kurt Schwitters’ Art of Redemption

Kurt Schwitters adalah salah satu maverick yang paling memikat seni abad ke-20. Keseniannya selalu dikelompokkan dengan Dada, meskipun bentrokan pribadi mencegahnya diterima secara formal menjadi anggota, dan secara alami ia tidak akan pernah sepenuhnya berkomitmen pada gerakan kolektif apa pun, bahkan satu protes: kurangnya minat dalam politik membuatnya berbeda dari yang lain. kelompok utama German Dadas, begitu pula kediamannya di Hanover daripada Berlin. Namun secara paradoks, Schwitters pada dasarnya adalah seorang Dada: penyair Dada Tristan Tzara menulis bahwa Schwitters adalah “salah satu dari orang-orang yang struktur batinnya selalu Dada oleh alam. Dia masih akan menjadi Dada bahkan jika panggilan Dada belum dibunyikan. ”Pada 1918, pada usia 31 tahun, dia telah menemukan bahwa dia bukanlah seorang pelukis, tapi itu baginya esensi seni terletak pada kombinasi bahan yang ada. Pada tahun 1919 ia menamai bentuk pribadi kolase “Merz,” untuk memberi isyarat bahwa gambarnya berbeda dari Kubisme, Ekspresionisme, atau bahkan Dada, dan seiring waktu ia memperluas nama ke semua kegiatannya, termasuk puisi dan pertunjukan.

 

Schwitters adalah seniman konseptual yang benar-benar: Tujuannya adalah sintetis, dan secara khusus dimaksudkan untuk melanggar batas-batas disiplin. Dengan demikian dia menulis pada tahun 1921:

Menyibukkan diri dengan berbagai cabang seni adalah kebutuhan artistik bagi saya … Adalah keinginan saya untuk tidak menjadi spesialis dalam satu cabang seni, tetapi seorang seniman. Tujuan saya adalah karya seni komposit Merz yang merangkul semua cabang seni dalam kesatuan artistik.

Merz berarti kebebasan dari semua belenggu, demi penciptaan artistik.

 

Schwitters meninggalkan Jerman pada tahun 1937, setelah karyanya disusun oleh pemerintah Nazi sebagai “Degenerate.” Dia menghabiskan tiga tahun di Norwegia, lalu pergi ke Inggris saat orang Jerman menyerbu Norwegia. Setelah diantar ulang selama setahun sebagai “orang asing,” dia tinggal di London selama empat tahun ke depan, lalu pindah ke Distrik Lake Inggris, di mana dia tinggal sampai kematiannya pada tahun 1948.

Ketika Schwitters meninggal, dia miskin dan sebagian besar dilupakan oleh dunia seni. Namun, bangkitnya perakitan dan Neo-Dada pada tahun 1950an dan tahun 60an membawa minat baru dalam bentuk inovasi konseptual radikal sebelumnya, termasuk apresiasi baru bagi Schwitters dan Merz. Jadi misalnya di katalog untuk museum senior tahun 1986, pameran, dada, surealisme, dan warisan mereka, William Rubin menggambarkan Schwitters ‘tiga dimensi Merzbau sebagai prototip untuk pahatan lingkungan, dan Schwitters sebagai nabi yang mengantisipasi tujuan Robert Rauschenberg bekerja di gap antara seni dan kehidupan.

Seni Schwitters sangat pribadi, dalam konten dan bentuknya. Karya-karyanya mencerminkan lingkungan dan aktivitasnya: tidak hanya tiket bus di mana-mana, namun tanda terima binatu, kliping surat kabar, amplop dari korespondensi dengan teman, dan label makanan dari paket perawatan yang dikirim oleh seorang teman Amerika. British Made (1940-45) berisi label dengan ungkapan itu, di sebelah – tentu saja – tiket bus London, dan fragmen jadwal pengiriman Jerman, untuk membuat kronik perjalanannya. Sebuah kolase 1947 termasuk judul surat kabar, “Mr Churchill adalah 71.” Schwitters menggunakan artnya untuk memberlakukan moto-nya: “Buat koneksi, jika mungkin, antara segalanya di dunia.”

 

Ironisnya, Schwitters di Inggris adalah perayaan seni Kurt Schwitters oleh lembaga yang secara mencolok gagal mendukung seni itu selama masa hidupnya. Dan narasi pameran itu adalah kisah yang menyedihkan, dari masa yang sulit. Namun pengalaman melihat pertunjukan itu tidak menyedihkan, tetapi mengilhami, karena demonstrasi komitmen lengkap Schwitters terhadap seninya yang idealis dan tidak konvensional. Setelah kematian Schwitters, seorang teman, pematung Naum Gabo, ingat bahwa Schwitters akan berhenti tiba-tiba di tengah-tengah percakapan, menatap dengan penuh perhatian ke tanah:

Lalu dia akan mengambil sesuatu yang akan berubah menjadi secarik kertas tua … Dia akan membersihkannya dengan hati-hati dan penuh kasih sayang lalu dengan bangga menunjukkannya padamu. Hanya dengan begitu orang akan menyadari betapa indahnya potongan warna yang terkandung dalam potongan yang kasar. Dibutuhkan seorang penyair seperti Schwitters untuk menunjukkan kepada kita bahwa unsur-unsur keindahan yang tidak teramati bertaburan dan tersebar di sekitar kita dan kita dapat menemukannya di mana-mana … jika saja kita peduli untuk melihat, untuk memilih dan menyesuaikannya dengan suatu tatanan yang indah.

 

 

More info : Huff post & Google.com ( Sumber info terpercaya )

From Traveling to Drawing

My Art Work

” From Travelling to Drawing “
Drawing, Acrylic on Paper ( Sketch book )

“…Travelling, ini merupakan sebuah Project untuk Progress Saya akan Drawing series & Master Karya Drawing Progress. Project ini Saya mulai dari berkeliling ke kota Surabaya dan Yogyakarta khususnya Bantul, baik di jalanan, di dalam Bus, kereta api dan bermain ke rumah teman-temen Seniman.

Sharing dalam persoalan hidup, berkesenian, pengalaman dan bahkan cara bagaimana menyikapi sebuah KARYA ke dalam Market / Pasar ( masalah Penjualan karya, Kolektor / kolekdol, harga dan potongan untuk galery ) bahkan bagaimana cara untuk bertahan hidup di dalam dunia SENI.

Cukup lama dan kisaran kurang lebih 5 s/d 6 bulan Proses dan Progress ini berlanjut di kota Yogyakarta ( Bantul dan sekitarnya ). Bermain dan bersilaturrahmi ke dalam Studio Artist ( terutama di Jogja ) membuat semangat untuk progress Drawing ini semakin bergejolak dan semakin banyak ide dalam bentuk dan suasana. Mengenal Studio Artist, berkunjung ke Pameran dan merasakan suasana dan gairah di dalam kampus SENI ( ISI Yogyakarta ) membuat suasana otak menjadi semakin terfokus akan Persoalan-persoalan yang kerap hadir mewarnai keanekaragaman di dalam penciptaan sebuah karya, ini merupakan hal yang baru dan harus di syukuri di dalamnya. 

Suasana dan bentuk adalah sebuah Object utama di dalam sebuah penciptaan & ide  berkarya….”