MixoLydian PurWanto Studio : Faktisitas sebagai Darma ( Diversity, Wholeness, Wishfull )

http://mixolydianpurwanto.blogspot.com/2019/09/faktisitas-sebagai-darma-diversity.html

Advertisements

Faktisitas sebagai Darma ( Diversity )

My Art Work

” Faktisitas sebagai Darma ( Diversity )”

Mixed media on Paper, 2019

MEMBACA DIRI DAN KEDIRIAN

“The way to create art is to burn and destroy ordinary concepts and to substitute them with new truhts that run down from top of the head and out of the heart.”
Charles Bukowski

Seorang kawan perupa yang sekaligus pemikir seni asal Surabaya, sebut saja namanya Hari Prajitno (sekedar untuk menyebut sebuah nama), pernah mengatakan bahwa proses kreatif itu seperti kehidupan sifatnya, serba misterius. Kerap kali proses itu berjalan secara automatis, berada di luar kontrol “aku” seniman sebagai subjeknya. Proses kreatif dapat melakukan penyusunan dirinya sendiri, bahkan mentransformasikan dirinya sendiri tanpa perlu bantuan “aku“.

Dengan kata lain, sebuah proses kreatif itu tidak ubahnya sebuah struktur yang elemen-elemen di dalamnya memiliki kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri, membangun jaring-jaring relasinya sendiri, mengubah dirinya sendiri tanpa ada campur tangan “aku“. Maka, bisa saja ketika “aku” berhadapan dengan proses kreatif akan mengalami displacement, sebuah ketergelinciran atau keterpelesetan. Sebuah kondisi yang memungkinkan terjadinya pewujudan karya yang berbeda dengan yang diniatkan. Dalam paradigma seorang kawan yang merupakan esais sastra yang handal, sebut saja namanya Ribut Wijoto (sekedar untuk menyebutkan sebuah nama), kondisi itu disebut pengkhianatan proses kreatif.

Pengkhianatan proses kreatif adalah kondisi di mana proses kreatif mengambil otoritas penuh atas subjek pengkarya atau “aku“. Pada kondisi ini, proses kreatif menjadi “mesin artikulasi” yang menata momen-momen artistik subjek. Elemen-elemen kreatif yang memungkinkan untuk subjek berkreasi diposisikan secara dinamis oleh “mesin artikulasi” tanpa ada kendali subjek, karena mesin tersebut berkerja dengan sistemnya sendiri.

Sampai di sini, tentunya, muncul pertanyaan: apakah itu berarti bahwa proses kreatif seorang subjek kreator itu bersifat nihilis? Tentang nihilisme, seorang sastrawan kelahiran Amerika pada tahun 1899, Ernest Hemingway, pernah memberikan ilustrasi yang menarik dalam sebuah novel yang dia tulis: The Old Man and The Sea. Novel tersebut terbit pertama kali di Amerika pada tahun 1952, dan mendapatkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1952. Novel tersebut ibarat alegori atas paradigma nihilisme.

Novel itu berkisah tentang tekad kuat yang dimiliki oleh seorang nelayan, meskipun dia tahu jika hasilnya, mungkin, tidak seperti apa yang dia harapkan. Alkisah hiduplah seorang nelayan bernama Santiago yang selama karirnya dianggap sebagai nelayan yang tidak pernah beruntung. Namun, karena dia sadar bahwa dirinya adalah seorang nelayan, maka dia tetap berangkat berlayar mencari ikan, meskipun dia tahu bahwa dia pasti akan meraih hasil yang tidak sesuai harapan. Namun, Santiago tetap saja berlayar selama 87 hari mencari ikan. Alhasil, di akhir cerita, dikisahkan bahwa Santiago mendapat hasil tangkapan ikan yang tidak sesuai harapan.

Dalam konteks eksistensialisme, tindakan yang dilakukan Santiago disebut modus mengada. Secara definitif, modus mengada dapat dipahami sebagai motif yang dilakukan oleh seseorang dalam meneguhkan keberadaan dirinya sebagai pribadi yang diinginkan secara sadar. Bagi eksistensialis, ini merupakan konsep penting yang membedakan seseorang eksis dan tidak eksis. Bagi eksistensialis, seseorang dikategorikan memiliki nilai eksistensial apabila dengan sadar dia menentukan eksistensinya.

Kesadaran subjek untuk meng-ada menjadi titik utama bagi eksistensialisme. Bagi subjek eksistensial, dunia di luar “aku” adalah sesuatu yang dapat mengganggu eksistensi. Oleh karena itu, keberadaan dunia di luar “aku” harus dilenyapkan, dinihilkan sehingga “aku” dapat berkuasa atas “aku“. Dunia atau semesta di luar “aku” harus dimaknai sebagai sesuatu yang tidak bermakna. Maka, dengan begitu “aku” yang sadar dapat menjadi “subjek pemberi makna”. Inilah semantis nihilistik pada eksistensialisme: “aku” telah mengetahui bahwa dunia atau semesta eksternal tidak bermakna, tetapi “aku” tetap meng-ada, sebab hanya dengan meng-ada-nya “aku” dunia jadi bermakna.

Bagi eksistensialisme, situasi dan kondisi tersebut tidak dipahami kesia-siaan. Situasi dan kondisi tersebut dipahami sebagai kebebasan. Kemerdekaan yang secara sadar keberadaannya ditentukan tanpa faktor di luar “aku“. Maka, bagi eksistensialis, upaya untuk meneguhkan eksistensinya melalui praktik modus mengada bukanlah kesia-siaan. Hal tersebut disebabkan oleh praktik modus mengada yang dilakukannya merupakan jalan pembebasan.

Kembali ke topik proses kreatif. Bagi seorang kreator seni (apapun genre seninya) proses kreatif bukanlah sekedar momen penciptaan, tetapi juga momen pembebasan sekaligus momen pengenalan kembali dan pembentukan kembali diri. Dalam proses kreatif, seorang seniman diajak untuk kembali mengenali dirinya secara utuh dan murni. Dalam proses kreatif, seorang kreator secara radikal dan kritis kembali mengelaborasi berbagai teks yang menyusun biografinya. Melalui tindakan yang terdapat dalam proses kreatif, teks-teks yang telah dieksklusi oleh etik normatif berusaha dikembalikan ke dalam diri. Tindakan ini dilakukan untuk mencapai keutuhan dan kemurnian.

Normativitas ranah sosial kerap mengeksklusi nilai-nilai yang dapat mengacaukan tatanan sosial. Pada kondisi ini, diri manusia ditundukkan pada kepentingan sosial. Maka, pada tataran ini, diri manusia menjadi diri sosial, dan bukan diri yang mempribadi. Padahal diri yang mempribadi merupakan hal yang penting bagi penciptaan. Jika sebuah proses kreatif adalah tindakan pembebasan diri untuk mencapai yang utuh dan murni, maka mencapai diri yang mempribadi menjadi hal yang harus diraih, karena dengan hal itulah seorang kreator tidak saja mencapai kemurnian dan keutuhan diri, tetapi juga kebebasan diri.

Kebebasan diri mengandaikan keberdaan diri yang terbebas dari hal-hal yang normatif. Untuk membebaskan diri dari yang normatif. seseorang harus juga mengetahui yang tidak normatif. Dalam konteks diskursus postmodern, upaya pengenalan dan pembebasan diri dapat ditempuh dengan memanfaatkan metode dekonstruksi. Secara umum, merujuk pada Derrida, dekonstruksi merupakan sebuah metode yang digunakan untuk menghadirkan apa yang kerap diingkari oleh yang normatif. Oleh karena itu, dalam metode tersebut, sesuatu tidak hanya dikontruksikan, tetapi juga didekonstruksi dan direkonstruksi. Dalam proses kreatif, diri seorang kreator tidak hanya dikontruksikan, tetapi juga didekonstruksi, bahkan direkonstruksi.

Kontruksi diri yang telah ada harus kembali ditelusuri atau di-trace dalam relasi-relasinya dengan konteks, dan ko-teks. Penelusuran tersebut dilakukan untuk mengenali mana yang normatif atau konvensional dan mana yang bukan normatif yang terdapat dalam biografi. Setelah kontruksi diri dikenali, maka pendekonstruksian harus dilakukan. Pendekonstruksian dilakukan agar hal-hal yang bukan normatif yang tadinya dieksklusi dari teks biografi sebagai diri sosial dapat dikembalikan ke dalam teks biografi diri. Maka, semua hal harus dibalik dan dihancurkan nilainya, sebab hanya dengan cara tersebut segala teks akan menemukan kesetaraannya.

Namun, tantangan terbesar adalah ketika kesetaraan tersebut hadir dan seorang kreator melakukan rekonstruksi diri. Kesetaraan nilai teks membuat tindakan rekonstruksi diri menjadi tindakan yang terbuka bagi segala kemungkinan. Keterbukaan pada segala kemungkinan inilah yang membuat teks rekonstruksi rentan terhadap ketergelinciran atau displacement. Hadirnya teks-teks yang tidak terduga ke dalam teks diri membuat rekonstruksi diri menjadi sebuah tindakan yang penuh dengan ketakjuban. Oleh karena itu, dalam proses kreatif, antara apa yang diniatkan dan yang hadir bisa saja memiliki keberbedaan. Hal tersebut tidak adanya relasi absolut antara niat penciptaan dan hasil penciptaan. Inilah yang disebut “pengkhianatan proses kreatif”. Namun, itu bukanlah hal yang buruk. Itu adalah sesuatu yang harus terjadi, karena seorang kreator, sebagai subjek, merujuk pada zizekian, bukankah bersifat kosong, dan sebagai sesuatu yang kosong, bukankah diri seorang kreator membuka segala kemungkinan bagi kedirian.

Kiranya, tulisan ini hanya merupakan tulisan rintisan sekenanya yang dimaksudkan sebagai pengantar untuk memasuki diskusi lebih dalam dan holistik pada pameran seni rupa “Diri dan Kedirian” yang akan diselenggarakan pada tanggal 26–28 Agustus 2019 di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Terima kasih.

Written by : Indra Tjahjadi

TRANSFORMASI KEDIRIAN

Pada pameran yang bertajuk “Diri dan Kedirian” Eksistensi VI 2019 tidak lain adalah kelanjutan dari beberapa pameran-pameran sebelumnya yang diawali oleh pameran pertama kalinya di “Eksistensi I” tahun 2002. Tidak luput dari peran para figur dan tentunya juga semangat masing-masing pesertanya yang saling mendukung kini KSAP ( Komunitas Seni Arek Pakis ) melanjutkan sebagai penunjukkan diri yang sudah ke-6 kalinya sejak dari “Eksistensi I-IV”, Eksistensi V yang bertema “CloeRock” pada 2018.

Melanjutkan semangat yang sudah terbangun dengan baik sebelumnya yang tentu dengan format eksistensial secara diri dan kedirian, bukan sekadar eksis atau sekadar survival, melainkan meng-”Ada” yang mana bentuknya adalah mampu berpameran tunggal secara sendiri mandiri dan mendialogkannya sebagai tanggung-jawabnya sendiri akan keberadaan manusia yang memang secara alaminya berbeda-membedakan diri.

Seniman yang eksis adalah manusia yang telah “ada”, sadar bahwa dia ada/ being, sadar akan dirinya dan bertindak penuh atas dirinya sendiri, begitulah kesadaran eksistensial atau kedirian yang eksis. Bukan eksis dalam arti keterkenalan, followernya banyak, banyak yang nge-like, banyak ditanggapi, bersifat sekadar pencintraan, melainkan sadar siapa dirinya, mengontrol diri secara penuh dan bertindak sesuai hasil keputusannya sendiri.

Ketegangan eksistensi manusia berada di dua kutub, antara ber-ada/Dasein dan tidak berada/ Dasman dalam formatnya Heidegger. Adanya tubuh/ memiliki tubuh tidak dapat dipastikan bahwa manusia berada karena itu hanyalah sisi material belaka, manusia memiliki tubuh (to have) bukan berarti ia berada di dalam dirinya sendiri, belum tentu dia sudah menjadi dirinya (being).

Justru bila hanya berkesadaran sudah memiliki tubuh maka menjadikan seseorang akan terasing dengan dirinya karena manusia akan tetap menuruti kuasa yang mengarahkannya ke dunia material belaka yang tidak esensial, yang terjangkau. Maka bukan hanya untuk terus memiliki tubuh itu terus menerus namun melampauinya terus-menerus/ memperbaharui layaknya proses alam bertransformasi dalam keberlanjutan evolusinya dengan cara membuka diri/ berpartisipasi.

Bagi manusia arti “eksis/ survival” belumlah cukup membanggakan manusia itu sendiri, karena manusia bukanlah sekadar makhluk tanaman yang hanya mampu tumbuh dan berkembang saja dan juga manusia bukanlah sekadar hewaniah yang hanya bergerak mencari makan, naluriah dan agresif semata yang mustinya nanti bisa dilanjutkan ke hal eksistensial bagiamana bertransformasi mengembangkan daya kemampuan “manusiawi” sebagai khalifah yang dimuliakan, yaitu membentuk identitas, karakter dan kepribadian yang mana “kedirian” masing-masing person akan mampu menyatakan secara nyata bahwa masing-masing person benar adanya dengan cara berpameran tunggal. Kemandirian yang tidak terjebak dalam kerumunan walau dia masih bersosialisasi, tidak lengah atas dunya/ dunia walau dia adalah bagian dari dunia.

Written by : Hari Prajitno

Surabaya, 26 s/d 28 Agustus 2019

Gallery Prabangkara

Jl.Genteng kali 85 Surabaya

* Tentang Karya

” Faktisitas sebagai Darma ( diversity ) ”

Whisfull & Wholeness
Mixed media on Paper, 2019

Proses ini Aku namai sebagai ” Proses yang ke Ⅲ “

Ini selain mengembangkan atau merespon garis dan bentuk melalui media yang tak terpakai, bekas, sampah / sebagai keterbatasanku ( untuk menghasilkan gerak diversi ) juga lebih merespon sekitar yang ritmenya lebih mengutamakan proses mengamati ( observation ), meninjau sekitar ( keseluruhan baik objek atau subjek yang bersifat konsumtif terhadap keseharian ), mengola atau merespon kesemuanya dari objek dan subjek yang terdapat di sekitar untuk dijadikan atau menjadikan ( becoming ) sebuah Penciptaan karya yang bisa memungkinkan / kemungkinan2 bisa menjadi hal-hal yang baru ( Brainstorm ) dan tidak monoton ( Literal ) yang dalam arti mengupayakan ( becoming ) dan meng”ada“kan ( being ) meskipun penciptaan Seni itu tidak harus berangkat dari sesuatu yang baru ( Bisa berangkat dari Filsafat, sastra / puisi , Symbol dan yang pernah ada untuk dikembangkan )

Dan didalam proses ke Ⅲ ini Objek dan Subjek yang tercipta ( ditemukan kemudian di ciptakan menjadi karya ) tidak terlalu diutamakan didalam pemaknaan, melainkan dijadikan sebuah abstraksi di dalam penciptaan karya atas hal-hal yang memungkinkan baru dan kemudian dihubungkan secara semantik pada Kreasinya ( mengalir bagai air ). Begitu pula Objek dan subjek pada proses ini yang berarti baik itu Objek, Warna, Garis dan komposisi semua terkomposisikan / berabstraksi pada wujud sebuah Rasa, Sifat, Ruang dan Penciptaan / Proses ( Karya yang tercipta ) Karena proses berkreasi / kreativitas itu memang harus muncul dan didasari atas ” Kejujuran dari dalam diri dan otentik “ yang bisa memungkinkan untuk memunculkan sebuah Idea & Kreasi yang ” beda ” dan ” tunggal “ didalam proses penciptaannya.

Keterkaitan Alam dan sekitar memang sangat berperan penting didalam proses ini ( atas keterbatasan ku sendiri baik dalam media atau bahan ) karena sesuatu yang konsumtif, kapitalis, kegemerlapan atas gaya hidup dan bahkan sifat iri dan sombong yang terjadi disekitar ini memang suatu yang aktual dan menjadikan sebuah sifat dan rasa yang benar-benar teralami pada sekarang. Karena Seni sendiri memang bersifat Kosong atau dalam arti yaitu ” Right HERE “ dan ” Right NOW “ yang berarti memang hampa / tidak ada apa-apa dan kosong.

Keseluruhan proses ini ( Lihat karya-karya drawing yang sudah Saya Upload ) memang mencoba untuk memunculkan dan menciptakan sebuah kemungkinan2 atau memungkinkan sebuah penciptaan karya atas sebuah Wishfull dan imajinasi / berangan-angan, sebuah Abstraksi, Bentuk ( Symbol, Garis dan gerak diversi, Rasa dan ruang ) dan Hal-hal baru didalam sebuah Penciptaan karya.

NB : Proses penciptaan karya yang ke Ⅲ ini berlatar belakang dari apa yang ada didalam sekitar kehidupan Saya yang bersifat konsumeritas, kapitalis, Kesombongan, iri dan dengki, dll selain juga untuk mengatasi atas apa yang menjadi keterbatasanku ( apapun itu terutama media dan bahan ) yang menjadikan Faktisitas Ku sebagai Darma Ku. Proses ini juga berangkat dari sebuah tulisan-tulisan atau Text tentang Seni Rupa & Penciptaan karya didalam Seni Rupa ( oleh Hari Prajitno M,sn ) yang mencoba Saya baca dan Visualisasikan / diwujudkan kedalam bentuk materi karya dan penciptaannya ( keseluruhan visual didalam Lukisan / karya ) yang berharap akan memungkinkan atau kemungkinan2 akan munculnya sesuatu yang baru didalam penciptaan karya ( Fine Art )

… Yang berarti membedah sebuah karya Tulis / Tulisan tentang Seni Rupa & Penciptaan karya untuk di Visualisasikan / di Wujudkan kedalam sebuah karya ( Lukisan ).

Artist & Written by : MixoLydian PurWanto

Art Work, 2019

Wishfull “ Faktisitas sebagai Darma

Karena #manusia dilahirkan atau tercipta secara #faktis bahwa telah ada secara niscaya yang berarti tidak dengan kesadaran dan permintaan penuh atas keberadaan hidupnya di dunia ini atau adanya ternyata sebagai niscaya yang tidak diminta, dipercepat ataupun ditolak keberadaanya ( karena hidup dan kehidupan itu sendiri adalah #absurd )

Dan Manusia secara Faktis memang sudah mempunyai sebuah tujuan yang tertanam ataupun terberikan melalui #darma masing2, yang berarti sebagai pengabdian atas niscaya akan keberadaanya terhadap lingkungan, alam dan sekitar. Jika didalam #seni maka yang tertujuh adalah bergerak secara #ideal nya masing2 ( Darma ) dan jika memang bukan secara faktisitasnya sebagai Darmanya, maka berhentilah ( yang dalam artinya tidak bunuh diri atau lepas tanggung jawab ” Profesi” masing2 ) didalam Penghayatan ( Seni ).

“…Nanti ketika Aku mati, tolong tuliskan pada nisan ku….( Don’t try!!! )….” by : C. Bukowski

→Written by : Hari Prajitno M,sn

#foundobject #artwork #alam #semesta #hidup #profesio #faktisitas #manusia #art #human #object #subject #penghayatan #tangankananstudio #surabaya #contemporaryart #progress #dada #wholeness #darma #diversity #collage #fineart #drawing

Museum Of Mind [ M.O.M ]

Pameran Seni Kolektif M.O.M

Group Exhibition M.O.M
” Habis Gelap Terang Terus ”

⇒Opening : 26 April 2019
⇒Berlangsung 27, 28, 29 April 2019

MoM, Kebebasan Tanpa Batas Sebelum didefinisikan 2019/04/22

Titik Awal 2007: Anthropo-fabia

Bukan hal yang dinginkan untuk mendarat di Jakarta dengan gejala anthro-fobia. Ketika saya tahu Surabaya bisa menjadi tempat pendaratan lain dari Taiwan, anthro-fobia saya seperti menemukan penawarnya. Ada sekelompok orang yang tinggal di gudang yang ditinggalkan, yang tidak dapat didefinisikan sebagai seniman biasa. Semua hal di dunia memiliki kebebasan tanpa batas sebelum didefinisikan. Pindah dari gudang yang terbengkalai ke bangunan Belanda yang kosong, dinding panjat tebing, dan galeri nasional yang ditinggalkan dan terus sampai tidak ada ruang kosong untak digunakan, tidak ada takaran untuk menjadi terkenal. Rokok / Alkohol dan musik dapat dengan mudah menuntun mereka menuju kehidupan abadi.

Persimpangan 2018 Melancholia

Setelah beberapa tahun menyelesaikan investigasi di lapangan, saya pikir saya tidak punya kesempatan lagi untuk kembali ke Indonesia. Delapan tahun kemudian, Melancholia mencekik leherku dan berkata, “Lebih baik kau kembai ke Indonesia daripada memikirkan kematian. ” Tidak dapat diduga, beberapa teman MOM dibawa pergi oleh kematian. Saya memutuskan untuk menghargai sisa hidup saya. Bahkan setelah bertahun-tahun, pemahaman saya tentang MOM masih belum jelas. Kemudian, saya mencoba mengirim Syalabi ke Taiwan. Dan tentu saja saya tidak mendefinisikan diri saya sebagai kurator, karena semua hal memiliki kehebasan tanpa batas sebelum didefinisikan.

Tuiuan dan titik awal lainnya

Kemarin, saya mendapat kunci yang bisa membuka kotak misterius MOM. Saya sangat bersemangat memutar lubang kunci tersebut, dan melihat segala hal yang ada dalam kotak misterius MOM secara jelas Saya menunggu terlalu lama, meskipun akhirnya saya dapat mendefinisikan apa itu MOM Namun masih ada gunung lumpur di dalam kotak. Saya harus menemukan misteri dengan sangat hati-hati, mencangkul dengan tangan, kalau-kalau bencana penggalian yang tidak tepat terjadi seperti lumpur lapindo. Saya memutuskan untuk tidak membuat definisi, dan membiarkan MoM menjaga kebebasan liar mereka dalam seni.

Written & Curator by : [Mickeyelk 2019) Taiwan

 

 

 

#kartiniday #surabaya #groupexhibition #kartini #painting #installation #art #color #exhibition #rightnow #righthere #indonesian #sculpture #artwork #poetic #performanceart #artist

CAPTION

My Art Work
” CAPTION ” [ Now can buy everyone ] 2019
Mixed Media on Peper ( Kardus )

Thanks to :
GOD
AJBS Gallery
Cantique Place
M.O.M [ Museum Of Mind ]
Komunitas Seni Arek Pakis
Hari Prajitno M,sn
Good Man
⚫…dll

⚫Music by : Matarante ( Band Punk dari Kampus Seni STKW Surabaya )

Tentang Simbol dan Proses kreativitas ( Waktu ) ” Karena….. itu adalah sebuah batasan atau mungkin juga alasan dan atau mungkin juga sebuah keterbatasan akan simbol sebuah Waktu ( yang lama-lama akan menjadi usang,tak terpakai atau sampah ) yang mungkin akan menjadi sebuah Ciptaan atau Penciptaan dan atau juga Menciptakan sebuah unsur akan sebuah simbol pada waktu itu sendiri, entah pada kemarin, sekarang atau bahkan esok ( Future ).

Karena waktu sendiri itu adalah Kosong atau mungkin penuh dengan kepengapan atau bahkan mungkin sesuatu yang hampa akan tetapi terasa penuh, yang akan mengiringi sesuatu yang memang Ada dan atau tidak tampak ( kasat mata ) di dalam proses penciptaannya.

….. dan Waktu ( Proses dan Kreativitas ) yang akan menjawabnya ”

#artwork #rightHERE #rightNOW #brainstorm #dada #wholeness #art #waktu #time #future #packing #karya #artstudio #mixedmedia #collage #freedom #color #arttoday #daily #foundobject #artist #surabaya #pakis

ig : ( TANGKAS ( Tangan Kanan Art Studio ) )